Pemuda Filipina Lupa Sejarah, Indonesia Jangan Ikut-Ikutan

Pemuda Filipina Lupa Sejarah, Indonesia Jangan Ikut-Ikutan - GenPI.co
Arsip foto - Mantan senator Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr dan anak mantan diktator Ferdinand Marcos disambut oleh pendukungnya saat kedatangannya di Mahkamah Agung di metro Manila, Filipina, Senin (17/4/2017). (REUTERS/Romeo Ranoco)

GenPI.co - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merespons peristiwa terpilihnya Presiden Filipina Ferdinand Bongbong Marcos Jr, anak mantan diktaktor yang didukung pemuda.

Bendahara Umum DPP PSI Suci Mayang Sari mengatakan pemerintah seharusnya memasukkan tragedi reformasi 98 ke dalam kurikulum sejarah di sekolah.

Menurutnya, anak mantan diktaktor Filipina sebaiknya tidak terjadi di Indonesia, yang mana pemuda harus mengetahui sejarah tentang demokrasi lahir dari tragedi 98.

BACA JUGA:  Disindir Hanya Kritik Jakarta, Ini Respons Jubir PSI, Telak!

"Apa yang dilakukan bapaknya Bongbong Marcos ialah pemimpin yang sewenang-wenang dan korup. Jangan sampai kasus Filipina terjadi di Indonesia," kata Mayang kepada GenPI.co, Kamis (12/5).

Mayang menjelaskan ayah Ferdinand Bongbong Marcos Jr ialah Ferdinand Marcos Sr berkuasa dari 1965 hingga 1986 di Filipina.

BACA JUGA:  Sinopsis Balika Vadhu 12 Mei 2022, Akhiraj Dijebloskan ke Penjara

Selama 21 tahun jadi Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Sr dikenal sebagaib pemimpin diktaktor yang akhirnya tumbang oleh gerakan rakyat.

Selain itu, Mayang menurutkan selama masa darurat militer (1972-1981) hingga lima tahun terakhir berkuasa, Marcos Sr tercatat menahan sekitar 70 ribu orang, 30 ribu orang disiksa, dan raturan lainnya menjadi korban penghilangan paksa.

BACA JUGA:  Soal Reformasi 98 Masuk Kurikulum, PSI Beber Efeknya untuk Pemuda

Dengan demikian, dia menilai catatan buruk tersebut mirip dengan rezim Presiden Soeharto yang berkuasa puluhan tahun di Indonesia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Berita Selanjutnya