Liputan Khusus

Perluasan Bioskop ke Daerah Dorong Industri Perfilman Indonesia

Penonton Melesat, Film Indonesia Tambah Pesat
Djonny Sjafruddin, Ketua Umum GPBSI
Djonny Sjafruddin, Ketua Umum GPBSI

 

Pasalnya, masyarakat di kota-kota kecil cenderung lebih menyukai film lokal dibandingkan dengan film luar negeri.

Misalnya film ‘Mission Impossible’. Itu kalo di Sengkang (Sulawesi Selatan) nggak ada yang nonton. Kalah sama film-film lokal, film-film Indonesia yang lain, horor. Film luar itu kalah kalo di daerah. Film Amerika yang hebat itu dari Hollywood gak ditonton. Itu rata-rata di daerah kayak gitu,” kata Djonny kepada GenPI.co (26/8).

Djonny mengatakan, minat masyarakat untuk menonton film Indonesia sebenarnya sudah tinggi sejak dahulu. 

Meski demikian, masih ada sejumlah permasalahan yang menurut Djonny menghambat perkembangan industri perfilman di Indonesia hingga saat ini. Salah satu permasalahnya adalah terkait pajak daerah untuk perfilman.

loading...

“Kendalanya itu yang pertama pajak. Kalau pajak 10 persen banyak yang mau buka bioskop. Yang kedua, kendalanya arus keadaan politik. Itu harus tenang, nggak ribut, keamanan ketertiban, itu yang paling penting. Jadi orang nonton tengah malem nggak ada masalah. Jadi sebetulnya hampir nggak ada kendala yang signifikan untuk semua ini,” ungkapnya.

Djonny sendiri menggeluti usaha bioskop sejak tahun 1980-an. Menurutnya, perkembangan bioskop di Indonesia sudah berkembang pesat dari segi fasilitas dan jumlahnya.

“Saya bikin bioskop pada tahun 1975, itu tidak pakai AC tapi pakai fan (kipas). Kursi juga nggak pakai jok, tapi pakai papan. Tapi kecuraman penonton saya udah bikin,” kata pengusaha yang kini berusia 71 tahun tersebut.

“Kalo kita lihat dan bandingkan dengan zaman dahulu, sekarang sudah pasti hebat lah. Teknologinya juga, sekarang kan pakai digital jadi lebih bagus gambarnya, soundnya. Nah film kita belum bisa niru sound effect seperti film Amerika,” lanjutnya.

Djonny juga memberikan komentarnya terkait dicabutnya sektor film dari Daftar Negatif Investasi (DNI), sehingga membuka jalan bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di sektor perfilman Indonesia, termasuk bioskop.

Ia menjelaskan, hadirnya perusahaan atau bioskop asing di daerah, menyebabkan bioskop lokal dan independen menjadi kalah saing. 

Perluasan Bioskop ke Daerah Dorong Industri Perfilman Indonesia

Bioskop rakyat Indiskop di Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara hanya menayangkan film produksi sineas Indonesia (foto: Antara)

“Terutama untuk bioskopnya independen. Itu dia masuk, jadi kendala. Dia kan pasarnya lebih besar, fasilitasnya lebih bagus. Jadi bioskop di daerah itu justru jadi kalah saing,” kata Djonny.

Padahal, bisnis bioskop makin cerah saat ini. Seiring dengan minat masyarakat untuk menonton film Indonesia yang semakin tinggi.

Menurutnya, makin tingginya minat masyarakat menonton film Indonesia saat ini, salah satunya karena meningkatnya kualitas konten. Selain itu, percampuran genre perfilman juga menjadi kunci kesuksesan dari film di Tanah Air.

“Percampuran-percampuran itu yang penting. Jadi artinya film-film itu jangan serius banget, ada satu hal yang menarik yang dimasukkan. Jangan sampai penonton terlampau tegang, itu salah satu trik. Ini adanya di bioskop, di pasar,” ujar Djonny.

Dengan hadirnya teknologi digital atau media streaming dalam perfilman, menurut Djonny tidak berpengaruh terhadap eksistensi bioskop. 

Menurutnya, sensasi menonton di bioskop tidak bisa digatikan dengan teknologi digital lain seperti streaming ataupun teknologi home theater yang bisa dinikmati di rumah.

“Nggak ngaruh, kan datang ke bioskop untuk nonton film. Di dalam bioskop itu layarnya besar. Jadi jauh sensasinya,” ungkapnya.

Djonny berharap, ke depannya para insan perfilman, khususnya para kreator bisa juh lebih memahami stretegi pemasaran film. Hal tersebut dapat dicapai dengan banyak melakukan diskusi dengan berbagai pihak.

“Harapan saya sih, banyak diskusi secara informal. Karena yang tau pasar itu kan orang bioskop. Jadi sama-sama, bahu-membahu mensukseskan film Indonesia kita yang berkualitas,” kata Djonny.

Lihat video seru ini:


Reporter : Yasserina Rawie

Redaktur : Linda Teti Cordina

BERITA LAINNYA

TANYA AHLI

Berita Tentang Dear Diary Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING