Kisah Pahit Wiranto

Sial Saat Jadi Panglima ABRI Hingga Tersungkur di Tanah Banten

Menko Polhukam diserang (Foto: Dok. Polres Pandeglang)
Menko Polhukam diserang (Foto: Dok. Polres Pandeglang)

Pada saat itu, Wiranto mengatakan bahwa Komando keselamatan ada di bawahnya baik TNI dan Polri. Dia pun boleh membuat kebijakan nasional. Ia juga mengaku sempat kepikiran untuk mengambil alih pemerintahan, namun tentu ada akibat yang lebih besar yang membuatnya urung melakukan hal tersebut. 

"Semua Menteri harus bantu panglima, menetralisir, wah tanpa kampanye ambil alih enak nih, tapi ambil alih akibatnya apa, apakah negeri ini akan selamat, akhirnya civil war perang saudara," kata dia. 

Wiranto pun hingga saat ini masih dianggap sebagai salah satu Jenderal yang harus bertanggung jawab atas peristiwa 1998 tersebut.

Setelah sekian lama keadaan tenang, public tanah air dikejutkan dengan nama Wiranto yang menjadi target pembunuhan perusuh pada aksi 22 Mei 2019. Berdasarkan keterangan polisi, para perusuh mengaku disuruh membunuh empat tokoh nasional yang merupakan pejabat. Kapolri Jenderal Tito Karnavian akhirnya membuka nama empat pejabat itu, yakni Wiranto, Luhut Binsar Panjaitan, Budi Gunawan, dan Gories Mere.

BACA JUGA: Apa Misimu Abu Rara, Siapa yang Menyuruhmu?

Namun ancaman itu tidak membuat keberanian Wiranto kendur. "Memang yang diancam tidak hanya empat orang, ada pejabat-pejabat lain yang juga diancam seperti yang saya alami. Tapi saya kira kami tidak perlu surut dengan ancaman itu. Dan kita tetap teguh untuk menegakkan kebenaran, menegakkan keamanan nasional," ujar Wiranto di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, pada Selasa, 28 Mei 2019.

Hari ini merupakan bencana bagi Wiranto, tanpa ada “Peringatan Dini” dari intelijen ataupun pihak Kepolisian Menko Polhukam Wiranto ditusuk pria yang diduga terpapar ISIS saat kunjungan kerja di Pandeglang, Banten. 


BACA JUGA: Menko Polhukam Wiranto Ditusuk, Nih Senjata yang Dipakai Abu Rara


Redaktur : Tommy Ardyan

RELATED NEWS