Aksi Penyembur Api dari Paropo

Sebuah Kapal Pinisi tampak mendekati anjungan Pantai Losari, Rabu (10/10) malam. Kapal layar kebanggaan Indonesia dari Suku Bugis tersebut adalah satu dari serangkaian atraksi yang disuguhkan dalam perhelatan akbar Eight Festival and Forum (F8) yang diselenggarakan di Makasar, Sulawsi Selatan, 10-14 Oktober ini.

Ada pemandangan menarik di sekitar kapal pinisi tersebut. Sebanyak 12 sampan kecil terlihat mengiringi kapal dari segala arah. Pada masing-masing sampan, berdiri pria dengan balutan pakaian adat khas Sulawesi Selatan. Melakukan aksi berbahaya, mereka tak henti-hentinya menyemburkan api dari mulut.

Aksi menyemburkan api itu rupanya adalah sebuah atraksi tradisional. Papeka, namanya. Atraksi tersebut berasal dari Paropo, Makassar.

Sukri, salah satu pelaku aksi mengatakan, Papeka ini merupakan atraksi  tradisional yang sudah dimainkan sejak jaman nenek moyang mereka. Ia menambahkan, tak semua orang bisa menyemburkan api dari mulutnya. Karena perlu mempelajari sebuah teknik khusus agar api tidak sampai membakar wajah.

“Meski begitu, tidak ada latihan khusus untuk atraksi ini. Masing-masing kami sudah tahu tekniknya yang diajarkan secara turun temurun,” ujar Sukri.

Pada penyelenggaraan F8, Papeka disuguhkan dengan sedikit berbeda. Sebab, para penyembur api itu melakukan atraksinya di atas sampan. “Ini baru pertama kali di atas sampan, biasanya kami bawakan Papeka di panggung,” Sukri menambahkan.

Papeka ini rupanya sudah pernah juga  tampil di luar negeri. Sukri yang tergabung dalam Sanggar tari Paropo itu mengaku, kelompoknya sudah pernah berkali-kali diundang untuk menyemburkan api negara lain. “Pernah ke Malaysia dan Singapura. Bahkan orang tua saya dulu sampai ke Amerika Serikat,” tuturnya.

Atraksi ekstrim ini adalah ikon budaya di Paropo. Sayangnya, di tengah derap laju perkembangan jaman, Papeka sudah mulai dilupakan. Dianggap berbahaya, atraksi ini ogah dimainkan oleh generasi yang lebih muda. Maka tepatlah di Festival Eight Makassar menampilkan atraksi Papeka.

“Jika tidak dilestarikan, Papeka ini akan punah,” Sukri memungkas.

Reporter: Anggi Agustiani

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS