Destinasi Digital Genpi

JAKARTA - Ada banyak pertanyaan seputar Destinasi Digital Genpi. Bagaimana cara membuatnya? Harus berkomunikasi dengan siapa? Sebenarnya apa sih Destinasi Digital itu? Mengapa dinamai Pasar? Apakah bentuknya harus pasar? Apakah lokasinta hanya di desa-desa? Bagaimana ke depan? Darimana memulainya? 

Baiklah, sesi Q&A kali ini kita mengupas soal Destinasi Digital: _________________________________________

Sebenarnya apa itu Destinasi Digital? 

Jawab: 

Pendek kata, Destinasi Digital adalah destinasi yang dikreasi anak-anak Genpi, yang indah di kamera, alias Cameragenic. Bahasa lainnya Instagramable, kalau dicapture menggunakan kamera handphone, lalu diposting di media social, seperti Instagram atau Facebook, langsung mendapat respons positif. Banyak yang nge-views, nge-likes, comments, repost, banyak yang nge-share, dan ujungnya banyak memperoleh followers, friends dan fans baru di akun kita. 

Ujungnya, banyak interaksi di media social yang diawali dari sebuah postingan yang diambil dari spot selfie. Karena itu bagi anak-anak Genpi mendesain sebuah destinasi digital itu nomor satu, harus cantik di layar kamera.  

Siapa yang mempopulerkan Destinasi Digital? 

Jawab:

Destinasi Digital itu nama yang dipopulerkan oleh Menpar Arief Yahya, setelah melihat fenomena unik di kalangan millenials, terutama anak-anak Genpi. Setiap membuat akttivitas offline, selalu meledak, selalu heboh, selalu menjadi trending topic, viral di mana-mana. Menjadi bahasan yang asyik dan nggak habis-habis di media social. 

Mengapa disebut Destinasi Digital? 

Jawab: 

Lama, Menpar Arief Yahya menemukan kata “Destinasi Digiital” itu. Dikatakan Destinasi Digital, karena destinasi itu terbentuk dan menjadi benar-benar destinasi wisata, setelah dipromosikan melalui media social. Format content-nya sangat digital, menggunakan gambar atau foto, video dan text, dan diposting dengan Media Sosial. Media yang sangat digital. Media tempat anak-anak millenials melakukan search and share. 

Awal mula dibangun Destinasi Digital itu seperti apa? 

Jawab: 

Bermula dari Pasar Karetan, di Segrumung, Meteseh, Boja, Kendal.. Setahun yang lalu, 5 November 2017, yang dibuka oleh Ibu Esthy Reko Astuti, saat itu masih Deputi Pemasaran Nusantara Kemenpar, Minggu Pagi. . 

Saat itu, Don Kardono, Stafsus Menpar Bidang Media dan Komunikasi Publik uji coba terhadap kekuatan media social. Seberapa kuat engagement Media Sosial itu? Seberapa efektif netizen menggerakkan followers? Seberapa mampu membuat friends dan fans di media social bergerak offline? 

Karena itu, dibuatlah konsep kopi darat alias kopdar, yang lokasinya benar-benar sulit, jauh, dan tidak mungkin orang datang ke sana, jika bukan karena mengikuti ajakan kami. Jaraknya 24 km dari Simpang Lima Semarang. Jika dibuka dengan aplikasi Google Map, butuh waktu 54 menit. 

Lokasinya di tepian hutan karet PTP. Tidak ada akses jalan masuk menuju ke lokasi itu kecuali jalan kampong. Melewati tiga dusun, Sasak, Slamet dan Segrumung. Tidak dilalui angkutan umum atau transportasi public. Hanya orang yang membawa kendaraan sendiri yang bisa sampai di lokasi itu. 

Bagaimana dengan konsumsinya? Kita perhitungkan hanya 1000 orang yang akan datang. Angka 1000 itu juga merepotkan, tidak mungkin menyiapkan konsumsi, makan dan minum untuk 1000 orang. Mahal dan ribet. Karena itu kami menggandeng, mengajak masyarakat sekitar untuk berjualan di lokasi. 

Masakannya ditata yang indah, pedagang berbusana khas, Instagramable, strategi harga diatur, yang wajar, kualitas rasa dijaga, jenis kulinernya tradisional, Daftar harga dipasang, agar tidak “menipu” pengunjung, pelayanan ramah, lapak dihias dengan baik. Spirit Go Green, ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastic, pakai bahan-bahan alam seperti nenek moyang kita dahulu kala. 

Piring daun pisang, daun jati, mangkuk batok kelapa, sendok juga berbahan batok, sampai uang diubah menjadi girik, agar terasa khas dan Instagramable. 

Lalu, semua keunikan pasar kreasi anak-anak Genpi ini diviralkan melalui media social, maka Minggu pagi itu “meledak”, sekitar 5000 orang kumpul di Radja Pendapa Camp. Tidak sampai dua jam, seluruh makanan habis. Ya, banyak yang marah-marah, banyak yang kecewa. Karena itu minggu berikutnya diperbaiki, dan setiap minggu diperbaiki, sedikit demi sedikit. Akhirnya eksis hingga 12 bulan atau satu tahun berjalan. 

Selain Kuliner? Apa yang dijadikan atraksi di sana?

Jawab: 

Ada permainan anak-anak zaman dulu, seperti main egrang, main congklak, dakon, main bakiak, main lompat tali, dan sebangsanya. Juga ada permainan panahan, salah satu olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade, di sana. 

Bagaimana agar sustainable? Berkelanjutan? Adakah system pembagian keuntungan Genpi dan Masyarakat Penjual? 

Jawab: 

Variatif, sesuai dengan kesepakatan. Untuk kuliner, makanan dan minuman, antara 15-20% Genpi, 80-85% masyarakat, pedagang. 

Untuk permainan yang berbayar, bisa pada komposisi 30% Genpi : 70%, operator. 

Untuk parkir, di Pasar Karetan 100% untuk masyarakat. 

Apakah aturan dan persentase ini baku? Atau bisa disesuaikan dengan kondisi lapangan yang berbeda?

Jawab: 

Tentu, aturan itu bisa disesuaikan dengan lokasi di setiap daerah. Juga komitmen dengan pemilik lahan. Di Pasar Karetan, pemilik lahan, tidak memungut uang hasil transaksi di pasar, juga tidak mengambil uang parkir. Pemilik lahan hanya meminjamkan lahannya untuk aktivitas anak-anak muda Genpi. 

Silakan bagi pemilik lahan di mana pun juga, jika ingin kawasannya dijadikan aktivitas destinasi digital, silakan berkolaborasi dengan Genpi dan masyarakat sekitar. Minimal 1 tahun. Lahan itu harus bisa digunakan untuk aktivitas offline Genpi secara free. 

Bagaimana skema Genpi dan lahan Destinasi Digital? 

Jawab: 

Ada 3 skema. 

Pertama, dengan private, milik perseorangan, seperti model di Pasar Karetan. Lahan dipinjamkan, selama minimal 1 tahun, bebas digunakan untuk aktivitas offline Genpi, bebas untuk kegiatan genpi, tidak berbayar, alias gratis. Model ini paling mudah, karena bergantung pada komitmen pemilik lahan. 

Kedua, dengan Desa Wisata, seperti model Bilebante, Lombok, dengan Pasar Pancingan. Lahan milik desa, dan oleh masyarakat desa dirawat selama aktivitas pasaran dan selama weekdays. Bahkana masyarakat ikut bergotong royong membantu, merawat, menata, dan menghidupkan Destinasi Digitalnya. Genpi lebih ke promosi media social, kurasi booth, kuliner dan pelaksanaan acara di hari H. Hasilnya sangat bagus, lebih sustain, karena partisipasi masyarakat sangat kuat. 

Model kedua ini juga dilakukan di Pasar Kaki Langit, Bantul Jogjakarta. Hasilnya bagus, karena masyarakatnya sangat support. Masyarakatnya sangat sadar wisata dan mendapatkan economic values, penghasilannya bertambah. 

Ketiga, lahan milik pemerintah Kabupaten, Kota atau Provinsi. Jika pemerintah daerahnya berkomitmen, untuk memajukan daerah dengan pola Destinasi Digital, bekerjasama dengan Genpi, pasti bisa lebih mudah. Karena, lahan yang diserahkan Genpi untuk dikelola ini harus aman, nyaman, terawat, terjaga, bersih, ada atraksi mingguan. Dan Pemerintah Kota/Kabupaten punya semua perangkatnya. Contohnya Pasar Semarangan di Tinjomoyo. 

Nah, silakan pilih model yang mana? 

Syarat membuat Destinasi Digital itu apa saja? 

Jawab: 

1. Harus punya Genpi, komunitas netizen yang passionnya di Pariwisata, yang rajin memposting tema-tema Pariwisata, dari destinasi wisata, calendar of event, dan kebijakan Pariwisata. 

2. Mengapa Genpi? Karena harus ada yang militan, serius, bersungguh-sungguh mengelola teknis, mengorganisasi, kolaborasi dengan masyarakat dan pemilik lahan, mempromosikan dari lokasi, dan mengorkestrasi secara nasional menjadi viral. 

3. Yang paling bagus, mendapat support atau rekomendasi dari kepala daerah, bisa bupati, walikota, gubernur, melalui kepala dinas pariwisatanya. Agar, lokasi itu juga mendapatkan perhatian dari daerahnya. 

Bagaimana jika tidak mendapat support dari Pemerintah Daerah? Sementara Genpi-nya sudah bersemangat? 

Jawab: 

Ya, bersabar saja. Genpi harus belajar mandiri dan kreatif. Sebagai komunitas maupun media berbasis media social, tidak boleh putus asa dalam menghadapi problem. Jika komunitas ini kuat, dan semakin solid, speed, smart, banyak pihak yang akan mengajak kolaborasi dengan komunitas Genpi kok. Jadi, jangan “marah-marah” dan menumpahkan kekesalannya di media social. Nanti jadi polemic yang tidak produktif buat Pariwisata Indonesia.

Genpi lahir untuk membangun ekosistem Pariwisata Indonesia yang semakin kondusif. Karena masa depan Indonesia adalah Pariwisata. Karena core economy bangsa ini ada di industry kreatif dan cultural, dan Pariwisata ada di dalamnya. Maka kita perlu menciptakan ekosistem yang subur untuk tumbuh dan berkembangnya sector Pariwisata di tanah air. 

Terus bagaimana dengan Pemda yang tidak mau support? 

Jawab: 

Sabar. Itu hanya soal waktu saja. Mungkin belum tersosialisasi dengan baik. Kan, tidak semua pimpinan daerah sudah digital? Tidak semua pimpinan daerah suka berinteraksi via media social? Tidak semua kepala daerah menjadikan Pariwisata sebagai sector prioritasnya? Meskipun secara nasional, Presiden Jokowi sudah empat tahun berturut-turut menjadikan Pariwisata sebagai sector prioritas. 

Idealnya seperti apa? 

Jawab:

Ini sebenarnya pernah dibahas di Rakornas I tahu 2018 di Bali, yang bertema Digital Destination and Nomadic Tourism. Termasuk sudah direkomendasikan ke seluruh Kadispar Provinsi yang hadir di acara itu. Oke, kita ulang lagi ya: 

1. Di era digital, anak-anak millenials, generasi x-y-z lebih banyak menggunakan gadget untuk berinteraksi. Lebih aktif menggunakan media social dalam berjejaring. Angka pengguna gadget dan media social melalui gadget terus bertumbuh pesat. 

2. Positioning mereka adalah Esteem Economy, karena ada Esteem Need, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, melalui media social. Anak-anak muda itu butuh di-view, di-like, di-comments, di-share, di-repost. Bahkan itu sudah menjadi kebutuhan dasar, sebagaimana Sandang Papan Perumahan, Charger, Powerbank, Wifi dan sekarang storage di handphone. 

3. Jumlah millenials ini terus bertumbuh, dan mewarnai konten digital di Indonesia. Merekalah yang selalu heboh, mengeksplorasi destinasi, memposting experiences berwisata menjelajah bagian-bagian unik, aneh, asyik di Indonesia. Mereka lah yang membuat Indonesia semakin dikenal, dengan foto, video dan text story yang asyik. 

4. Destinasi Digital adalah jawaban untuk kopdar mereka, untuk berkumpul offline, networking, dan karena mereka adalah figur-figur community influencer, maka setiap ngumpul selalu diikuti banyak orang. 

5. Berdasarkan point-point itu, maka Destinasi Digital itu dibangun, untuk mewadahi millenials, yang selanjutnya diikuti oleh public, keluarga, dan masyarakat umum. Maka konsep destinasi digital itu selalu dinamakan “Pasar.”

Mengapa Pasar?

Jawab: 

Ya, pasar adalah meeting point. Tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat berjumpa seller dan buyer. Tempat bertransaksi bisnis. Tempat ngopi bareng teman. Tempat nongkrong semua level orang. Tempat berbaur, bersosialisasi, berinteraksi. 

Tempat membahas apa saja dengan bebas, terbuka, tidak ada jarak dan asyik. Tempat aneka ragam kuliner, tempat rekreasi, tempat permainan, ajang promosi, ngobrol ngalor ngidul. Tempat mencari pacar, berkenalan, dan berbagi. Perbincangan di pasar itu jauh lebih bebas, lebih egaliter, lebih leluasa, dibandingkan berdiskusi di dalam ruang tertutup. 

Apakah konsep Pasarnya harus semacam “Karetan” atau “Pancingan” atau “Kaki Langit” seperti itu di seluruh Indonesia? 

Jawab:

Tidak. Pasar itu ada 3 desain yang kita tawarkan kepada anak-anak Genpi di seluruh Indonesia. 

Pertama, Pasar dengan basis Nature atau alam. Pasar jenis ini menggunakan alam dan segala keindahannya sebagai objek foto dan selfie. Mereka mengeksplorasi gunug, hutan, sawah, ladang, sungai, batu-batuan, pantai, dan tepian laut. Contohnya Pasar Karetan, Pasar Pancingan, Pasar Kaki Langit, Pasar Cikundul, Pasar Mangrove, Pasar Kebon WatoeGede, Pasar Kumandang, Pasar Inis, dll semua masih menggunakan model alam sebagai ambience. 

Kedua, Pasar dengan basis Culture. Pasar yang suasananya dibuat dengan nuansa budaya, seperti heritage, kesenian, tradisi, dll. Seperti Van Der Capellen di Sumbar, Pasar Warisan di Lampung, ada nuansa sejarah, budaya, yang kental di destinasi digital itu. 

Ketiga, Pasar dengan basis Buatan, atau manmade. Potensinya ada di kota, di parkiran yang luas, dibuat mural, lukisan-lukisan, permainan 3 on 3 basket, atau foodtruck, dengan pemandangan buatan, seperti Pasar Kampung Bekelir di Tangerang, objek selfie-nya berwarna warni. 

Nah, silakan, kalian pilih yang mana? Sesuaikan dengan potensi di lokasi kalian? 

Sebenarnya apa sih untungnya buat anak-anak Genpi? Capek-capek bikin Destinasi Digital? 

Jawab:

Banyak. 

1. Networking. 

Value terbesar dari community adalah networking, berjejaring, berteman dengan banyak orang, dari beragam latar belakang, bermacam keahlian, beraneka kompetensi dan karakter itu akan membuat kita semakin pintar, semakin lengkap, semakin berwawasan. 

Dulu ada pepatah “banyak anak banyak rezeki”, lalu menjadi “banyak teman banyak rezeki” dan sekarang “banyak followers banyak rezeki” itu terjadi. Karena mereka bisa menjadi endorser, yang dibayar untuk mempromosikan sesuatu. Networking ini penting, bahkan masa depan anak-anak muda itu, ditentukan oleh kehebatan network. 

2. Belajar Manajemen 

Manajemen Pasar itu sudah mirip manajemen perusahaan, dan kami selalu meng-up date dengan ilmu manajemen yang diajarkan oleh Pak Menpar Arief Yahya. Misalnya gunakan 4P, Produk, Place, Price dan Promotion, untuk menggarap Destinasi Digital. Dibedah satu-satu, bagaimana produk destinasi digitalnya? Apakah sudah sesuai dengan market atau target customer kita? Harus didesain seperti apa? Pricing strategy, sampai ke promotion strategy-nya diajarkan dengan baik. 

3. Belajar Promosi Media 

Promosi media itu sangat penting dalam membangun Destinasi Digital. Semua bisa belajar, langsung mempraktikkan, dan melihat impact-nya sendiri. Bangga sekali bisa menciptakan bisnis, meng-create attractions, yang memberi manfaat buat masyarakat, dan komunitas sendiri. 

4. Belajar Konten 

Sekaligus belajar membuat content, membuat foto-foto yang indah, membuat video, saling belajar, saling memberi masukan, dan itu positif sekali. 

5. Kolaborasi 

Tidak mudah dan tidak banyak momentum anak-anak millennials dan anak muda itu berhubungan dengan masyarakat, melihat, merasa, dan menyelami hati masyarakat, karena 70% waktunya habis untuk bermain gadget. Bahkan sama orang tuanya sendiri juga semakin minim waktu berkomunikasi. Ini yang banyak dikeluhkan orang tua pada anak-anaknya, bahkan saat makan makam bersama pun, mereka banyak kehilangan momentum untuk berkomunikasi langsung. Mereka lebih sering memegang handphone-nya sendiri-sendiri. 

6. Direct Impact 

Ada direct impact yang diperoleh langsung saat beraktivitas di pasar atau destinasi digital. Ketika pasarnya kuat, omzetnya tinggi, mereka mendapatkan benefit yang lumayan juga, dari profit sharing. 

7. Indirect Impact 

Ini lebih ke media value, mereka lebih dikenal, lebih popular, punya banyak teman di media social, punya banyak sahabat, yang buat anak-anak millenials, itu sesuatu banget. 

Oke, omong-omong pengembangan Destinasi Digital ke depan akan seperti apa?

Jawab:

Banyak yang bisa dikembangkan. 

1. Memberdayakan dan Menghidupkan Desa Wisata 

2. Nomadic Tourism: Nomadic Attraction, Nomadic Amenities. 

3. Menciptakan Bisnis Baru, Destinasi Wisata yang Instagramable. 

Banyak dan akan kita buat laboratorium-nya di beberapa Destinasi Digital. 

Bagaimana teknik pengajuan Destinasi Digital? Apa saja yang harus dipersiapkan? 

Jawab: 

Silakan kontak Genpi Nasional dengan Ghera atau Jhe Ipul. 

Bagaimana kalau ada pelaku industry yang sudah membuat semacam “Destinasi Digital” dan sudah Instagramable, tetapi macet, mandek, bahkan mati? Apakah bisa dikerjasamakan dengan Genpi?

Jawab:

Bisa banget. Silakan hubungi Genpi Nasional, atau Genpi Provinsi, kita bisa duduk bersama menggairahkan destinasi yang macet dan mati suri, hidup enggan mati tak mau. 

Bagaimana kalau ada pelaku industry baru, ingin membangun destinasi digital secara mandiri? Apakah Genpi bisa membantu? 

Jawab: 

Dengan senang hati. Untuk Pariwisata Indonesia, untuk masa depan Indonesia. Untuk sector yang bakal menjadi backbone dan core business Indonesia ke depan, mari berkolaborasi. 

Kalau masih ada banyak pertanyaan terkait Destinasi Digital? 

Jawab: 

Silakan kirim pertanyaan Anda melalui Genpi.Co, Media tempat berekspresi anak-anak Genpi dan Genwi.  

Salam.

Redaktur: Cholis Faizi Sobari



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter