Benarkah Minim Ilmu Penyebab Harga Tenun Mahal?

Beberapa contoh Kain Tenun Nusantara (istimewa)
Beberapa contoh Kain Tenun Nusantara (istimewa)

Sebagai salah satu wastra Nusantara, kain tenun memiliki makna dibalik setiap helai benangnya. Dikerjakan dalam proses yang lama menggunakan peralatan tradisional ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) membuat kain ini memiliki nilai yang tinggi. Harga per meternya pun hingga ratusan ribu. Tak ayal masyarakat sering mengeluhkan tingginya harga tenun.

Menurut perancang mode sekaligus pemilik label Tenun Ikat Indonesia, Didiet Maulana hal ini tentu wajar sebab masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang pengerjaan tenun. Baginya hal terpenting konsumen harus paham hulu dan hilirnya, khususnya proses awal atau hulunya. Proses tersebut meliputi final desain, pengerjaan tenun hingga pewarnaan alami.

" Menurut saya karya apapun yang dikerjakan dengan tangan atau homemade layak untuk diberikan apresiasi yang sebanding. Karena tidak mudah untuk memunculkan proses kreatif tersebut, apalagi tenun diikerjakan dalam waktu yang lama," ujar Didiet seperti dilansir JawaPos (10/11).

Didiet mengakui bahwa saat ini masyarakat perlu diberikan edukasi soal nilai-nilai inti yang ada dalam pengerjaan kain tradisional. Langkah awal adalah memberikan narasi dan pembekalan kepada para pengrajin dan pemilik toko terkait dengan esensi tenun. Hal itu meliputi makna dibalik pattern dan proses pembuatan.

Tak hanya itu, para penenun lokal di berbagai daerah pun juga perlu diberikan pendidikan yang mumpuni dari segi pemasaran dan packaging yang tepat. Selain itu penting untuk membekali ilmu story telling kepada penenun, sehingga mereka dapat menyalurkan informasi yang benar kepada masyarakat secara luas.

" Kita berharap pendidikan soal tenun ini sudah mulai masuk di mata pelajaran di sekolah vokasi atau SMK. Tidak hanya mempelajari bagaimana cara menenun, tapi juga strategi pemasaran, packaging, dan story telling-nya," ucap Didiet. 

Untuk mengoptimalkan visi ini, menurutnya penting untuk menjalin sinergi antara pemerintah, para praktisi dan pengrajin lokal dalam upaya mengenalkan tenun. 

" Saat ini tentu terbantu dengan sosial media. Kita dapat menggunakan platform sosmed untuk memberikan narasi dan sharing tentang makna di balik pattern kepada masyarakat," pungkasnya.

Reporter: Hafid Arsyid

Redaktur: Landy Primasiwi



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter