Stories: Share your traveling moment!

Ini Beda Busana Mempelai Dhaup Ageng dengan Masyarakat Biasa

Mempelai Dhaup Ageng Pura Pakualaman menggunakan busana Jogja Paes Ageng Jangan Menir berbahan beludru dengan sentuhan khas Keraton pada resepsi Minggu (6/1) malam.
Mempelai Dhaup Ageng Pura Pakualaman menggunakan busana Jogja Paes Ageng Jangan Menir berbahan beludru dengan sentuhan khas Keraton pada resepsi Minggu (6/1) malam.

Dalam resepsi pernikahan atau Dhaup Ageng putera mahkota K.G.P.A.A. Paku Alam X Minggu (6/1) malam, kedua mempelai serta para orang tua tampil memukau dengan busana adat Jawa. Pakaian yang dikenakan oleh kedua mempelai adalah busana pernikahan Jawa tradisional, Jogja Paes Ageng Jangan Menir berbahan beludru.

K.R.N.T. Sintawati Retnosumbogo, Juru Rias Paes Ageng mengungkapkan,  busana tersebut memang biasa digunakan pada acara ngunduh mantu. Wanita yang akrab disapa Bu Lis tersebut menjelaskan bahwa busana tersebut juga digunakan dalam pernikahan masyarakat biasa.  Hanya saja, ada sentuhan spesial perhiasan keraton yang dikenakan mempelai wanita pada resepsi Dhaup Ageng.

“Kalau busana Jogja Paes Ageng Jangan Menir sebenarnya sudah banyak digunakan oleh masyarakat umum. Tapi yang spesial atau yang berbeda dari masyarakatnya adalah perhiasan yang digunakan mempelai wanita. Perhiasan tersebut sudah dipakai secara turun-temurun, setiap prosesi Dhaup Ageng”, ungkap Bu Lies yang juga merangkap Ketua Panitia Bagian Adat Dhaup Ageng itu.

Orang tua perempuan dari mempelai, yakni Gusti Putri Paku Alam X dan ibu dari mempelai wanita mengenakan busana yang sama, yakni kebaya brokat dengan batik truntum.

Sementara Kanjeng Gusti Paku Alam X menggunakan sorjan bermotif bunga dan ayah dari mempelai wanita mengenakan busana beskap. Hal ini dikarenakan busana sorjan merupakan busana khusus untuk sultan dan pangeran. Sementara Ayah dari mempelai wanita mengenakan beskap, karena merupakan masyarakat biasa.

“Kalau Kanjeng Gusti mengenakan sorjan, busana yang biasa dipakai oleh raja, sultan dan pangeran. Motifnya juga motif bunga, motif yang kerap digunakan raja-raja. Sementara kalau ayah mempelai wanita menggunakan beskap, baju yang digunakan oleh masyarakat biasa”, jelas Bu Lies.

Selain kedua mempelai dan orang tua, busana adik dari kedua mempelai juga memancing perhatian. Keduanya menggunakan beskap bermotif bunga dengan kain jarik.

Reporter: Yasserina Rawie

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS