Konflik Laut China Selatan, Pertahanan Laut Indonesia Harus Kuat

Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Pangkalan Angkatan Laut Selat Lampa, Natuna (Foto: @jokowi/Instagram)
Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Pangkalan Angkatan Laut Selat Lampa, Natuna (Foto: @jokowi/Instagram)

GenPI.co - Wakil Ketua MPR Syarief Hasan mendorong penerapan pendekatan diplomatis antar negara dalam menghadapi permasalahan atau konflik terkait wilayah perairan.

Syarif mengambil contoh dari permasalahan yang sedang terjadi di Laut China Selatan. Menurutnya, beberapa Negara yang mengklaim wilayah tersebut dapat berpotensi menimbulkan konflik antar negara yang lebih besar.

BACA JUGA: PSI: Daripada Indonesia Terpuruk, Lebih Baik Reshuffle Kabinet

"Kenapa saya tekankan diplomasi, kami harapkan suatu sistem yang teduh, sehingga tak ada musuh dengan tetangga. Karena bila kita lihat Laut China Selatan ini memiliki potensi konflik yang sangat besar," ujar Syarif dalam Webinar yang bertema penguatan kelembagaan sistem keamanan laut Indonesia yang diselenggarakan Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), Selasa (30/6).

Menurut Syarif, penyiapan kekuatan pertahanan sama pentingnya dengan mengedepankan diskusi diplomatis. 

ADVERTISEMENT

"Indonesia tentunya harus bersiap diri pertahanan dan keamanan yang bisa mempertahankan wilayah kita, oleh karena itu Indonesia membentuk Bakamla," kata Syarief.

Syarif mengatakan, pendekatan diplomatis adalah pilihan yang paling tepat untuk mengatasi konflik tersebut. Hal itu karena menurutnya, terdapat sejumlah aturan yang mengatur terkait kepemilikan serta pembagian zonasi di wilayah tersebut.

"Kita harus dapat memaksimalkan diplomasi dengan negara lain, jangan sampai konflik di Laut China Selatan ini jadi pemicu pecahnya perang dunia ketiga. Karena bila itu terjadi jelas akan menyulitkan Indonesia," ujar Syarief


Reporter : Andi Ristanto

Redaktur : Cahaya

loading...

BERITA LAINNYA