Agar Semua Bisa Saling Mendengarkan, Inilah Komunitas Handai Tuli

Keseruan teman teman komunitas Handai Tuli saat menggelar Temu Sapa pada 28 Oktober 2018 (Sumber foto: Instagram/ @handaituli)
Keseruan teman teman komunitas Handai Tuli saat menggelar Temu Sapa pada 28 Oktober 2018 (Sumber foto: Instagram/ @handaituli)

GenPI.co - Menyatukan mereka yang mampu mendengar dengan mereka yang tak bisa mendengar, itulah prinsip Komunitas Handai Tuli. Dengan begitu, maka rasa untuk saling memahami satu sama lain, akan begitu terasa. Itu harapannya.

Bermula dari Rully Anjar, salah satu pencetus komunitas Handai Tuli. Ia hanya ingin membangun sebuah wadah untuk menyatukan mereka yang mampu mendengar dan mereka yang tak dapat. 

Sekat itu pun berhasil disatukan melalui beragam kegiatan yang humanis dan edukatif. 

Untuk mewujudkan mimpi ini, Rully yang mampu mendengar merangkul 3 rekan tuli yakni Surya Sahetapy, Ricendy Januardo, Adhi Kusumo Bharoto, dan 1 orang dengar, Silva Tenrisara Pertiwi Isma, untuk bergandengan tangan membawa sebuah kesetaraan yang manis sesuai motto "Saling Berbagi & Saling Memahami".

“Kami belum memiliki anggota, saat ini hanya merekrut relawan. Untuk relawan ini kami terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi. Jadi relawan kami ada yang dengar dan Tuli,” ujar Rully kepada GenPI.co belum lama ini.

Mulai aktif sejak 30 Maret 2018 di Jakarta, Handai Tuli menerima 10 relawan pada awalnya. Saat ini makin bertambah seiring dengan kegiatan-kegiatan menarik yang dilakukan. Mereka yang terdiri dari lintas profesi dan usia ini memiliki 3 program menarik, yakni, Temu Sapa, Handai Berbagi, dan Handai Berkunjung.

Temu Sapa adalah pembuka pintu bagi masing-masing relawan. Format acara ini lebih santai dan banyak bermain. Karena tujuannya adalah mempertemukan orang Dengar dengan Tuli. Baik yang bisa bahasa isyarat maupun yang belum bisa sama sekali.


Mereka akan melakukan aktivitas diskusi dari hati ke hati agar tak terjadi asumsi.


Reporter : Hafid Arsyid

Redaktur : Maulin Nastria

RELATED NEWS