Perkenalkan, Mak Temu Sang Maestro Yang Setia Pada Tari Gandrung

Mak Temu ketika tampil untuk mempertunjukan Tari Gandrung sekaligus menyanyi (Sumber foto: Dok. Gandrung Temu Misti)
Mak Temu ketika tampil untuk mempertunjukan Tari Gandrung sekaligus menyanyi (Sumber foto: Dok. Gandrung Temu Misti)

GenPI.co — “Gandrung itu adalah hidup saya, tidur saya, dan mimpi saya,” inilah ungkapan dari sosok perempuan yang berjasa melestarikan tari Gandrung Banyuwangi, Temu Misti alias Mak Temu. Lebih dari 50 tahun, Mak Temu habiskan untuk Tari Gandrung.

Meski usianya kini sudah lebih dari 50 tahun, semangatnya tak pernah padam untuk mempertahankan, bahkan memperkenalkan Gandrung kepada generasi penerus. Hingga akhirnya, kini siapa yang tak mengenal tarian ini.

Sama seperti namanya, tarian yang berasal dari Banyuwangi ini mulai di-gandrungi dari berbagai kalangan. Tarian gandrung pun kini mulai go-internasional dengan banyaknya pementasan di berbagai negara. Itu semua berkat perjuangan keras berbagai elemen masyarakat dalam menjaga, memperkenalkan dan melestarikan tarian nan elok ini.

Mak Temu, adalah salah satu warga Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi. Darah seni mungkin sudah mengalir ke Putri kedua dari pasangan Mustari dan Supiah ini. Semua itu bisa didapatkan dari garis ayahnya yang seorang pemain ludruk dan biasa menyanyikan lagu jula-juli yang disebut kidungan ludruk. Selain itu ada pula kakeknya, Samin, yang merupakan seorang pemain seni tradisimocoan lontar.

Perjalanannya menjadi penari Gandrung dimulai semenjak usianya 15 tahun. Kala itu ia diajak oleh Sutris, salah stau juragan Gandrung, untuk ikut menjadi salah satu penari cilik di grupnya.

ADVERTISEMENT

“Si juragan gandrung tadi punya job, belum punya gandrung, pentas tinggal lima hari. Saya diomongin, ya ibu saya ndak mau, nangis-nangis,” papar Temu mengenal awal mula perjalananya.

Temu kecil yang sempat menolak tawaran ini akhirnya luluh setelah dibujuk oleh Mak Tijah (orang kepercayaan Mak Temu) serta kakak ipar ibunya yang juga tukang rias Gandrung. Semenjak itulah ia mulai belajar dan menjadi seorang gandrung. Gandrung yang diigelutinya adalah Gandrung Terob dengan tarian yang dipentaskan semalam suntuk, dari jam 21.00 hingga 04.00 shubuh.

Memasuki era 1970-an merupakan puncak keemasan kesenian ini. hampir tiap malam dia selalu tampil menari untuk menghibur para penonton. Bahkan tak jarang pula Mak Temu selama tidak pulang dan berkeliling menari bersama grup Gandrung-nya. Orderan pentas pun tak hanya di sekitar rumahnya, bahkan hingga ke wilayah Banyuwangi Selatan dan luar kota Banyuwangi. 


Redaktur : Maulin Nastria

loading...

BERITA LAINNYA

Berita Tentang Dear Diary Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING