Stories: Share your traveling moment!

Kandas jadi Dokter Hewan, Akbar Malah jadi Duta Hena

Duta Hena Indonesia, Akbar tengah mengambar hena (foto: Antara)
Duta Hena Indonesia, Akbar tengah mengambar hena (foto: Antara)

Bagi Muhammad Ariefa Akbar bisa keliling dunia dengan keterampilan seni hena yang telah digelutinya selama 10 tahun, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Maklum, putra pasangan ayah yang berasal dari Jawa Barat dan Ibu dari Arab itu awalnya bercita-cita menjadi dokter hewan.

Selama lima hari penyelenggaraan pameran pariwisata terbesar di dunia ITB Berlin pada 6 hingga 10 Maret 2019 antrean panjang tidak putus-putusnya di Paviliun Wondeful Indonesia yang menyediakan jasa hena. Tidak saja bagi remaja, tapi juga ada ibu-ibu dan anak kecil, bahkan pria juga ingin tangannya digambar dengan seni hena.

Baca juga: Batik, Inspirasi Jawa untuk Kain Tribal Afrika

Banyak pengalaman menarik yang didapat putra pertama dari tiga bersaudara ini, bahkan ia berhasil mengumpulkan tips hingga mencapai Rp10 juta. 

“Sebenarnya sih nggak harus kok itu, hanya serelanya saja,” ujar Akbar yang kini berusia 27 tahun.

Ia bercerita awalnya ikut mempromosikan budaya hena kepada pengunjung paviliun Indonesia di berbagai pameran pariwisata di dunia, khususnya di Eropa, tidak lepas dari peran M Lutfi, EO yang mendapat tugas mengisi paviliun Indonesia di berbagai pameran pariwisata.

“Waktu itu saya dihubungi mas Lutfi,” ujar Akbar yang sempat merasa ketakutan karena akan diajak ke Arab Saudi mengisi paviliun Indonesia di pameran pariwisata di Dubai. 

Akbar khawatir karena takut dijadikan TKI ilegal. Maklum, saat itu berita tentang agen pencari kerja untuk dipekerjakan di Arab Saudi sebagai pembantu sedang marak.

Keterampilan Akbar mengambar hena di tangan para pengunjung paviliun Indonesia mendapat sambutan pengunjung.  Selama menghena Akbar pun bercerita tentang keindahan berbagai objek wisata di Indonesia.

Melalui keterampilannya, Akbar pernah diajak oleh Kemenpar ke Dubai, ke pameran Pariwisata WTM London, ITB Berlin, Paris, Amsterdam, Madrid dan Kuala Lumpur.

“Benar-benar tidak pernah nyangka bisa keliling Eropa karena hena, dan bangga di umur segini, hobi aku berguna untuk media promosi pariwisata di kancah international,” ujarnya.

Diakuinya bila konsumen banyak yang antre, Akbar pun tidak tega. Kadang ia harus menahan lapar dan haus. Akan tetapi semua itu tidak terasa bila melihat mereka suka dengan lukisan hena.

Sering, katanya, pengunjung membandingkan atau meminta ditimpa lukisan hena sebelumnya yang mereka dapat dari negara lain, dengan lukisan hena dari Indonesia, dengan tambahan aksesoris, seperti gliter, dan manik-manik tampak lebih menarik.

Menurut Akbar, perjalanannya keliling Eropa menjadi kebanggaan bagi kedua orang tua dan menjadi cerita di antara temannya.

Bagi beberapa seniman sesama hena artist, Akbar berhasil mengangkat derajat mereka dengan mempromosikan dan mencetak prestasi di dunia seni ini, bahwa hena pun bisa menjadi hobi yang berkualitas dan mendatangkan uang, bahkan bisa keliling dunia dan cukup dipandang.

Akbar mengakui bahwa ia berhasil menulis buku tentang hena dan diterbitkan oleh Gramedia, untuk dijadikan media belajar bagi para pemula.

Buku yang berjudul "Henna Design - untuk Pernikahan, Life Style dan Special Events" berisi tentang sejarah hena di berbagai negara, tradisi dan tren hena di Indonesia, profesi hena artis di Indonesia

Akbar bercerita tentang pengalamannya yang menariknya waktu diajak Kemenpar ke Paris. dimana gambar menara Eiffel yang pernah dibuat di tangan, menjadi kenyataan dan bisa melihat langsung. 

"Paris menjadi kota impian yang ingin aku kunjungin," ujar Akbar.

Pengalaman menarik pernah dialaminya saat mengikuti pameran pariwisata Fitur di Madrid, akhir Januari lalu. Saat paviliun Indonesia sudah harus tutup masih ada pengunjung yang maksa dibuat  hena, sampai rela mau datang ke hotel. Di Madrid, Akbar mendapat koin tip terbanyak mencapai delapan juta selama empat hari .

Ia bercerita pernah juga waktu di Amsterdam diinterogasi oleh pihak imigrasi, karena di kopernya terlihat benda yang mencurigakan, bentuknya runcing, padahal itu hena cone yang berbentuk kerucut.

Deputi Bidang Pemasaran II Kementerian Pariwisata RI Nia Niscaya mengakui hena yang dibuat Akbar motifnya berakar dari budaya Indonesia, yakni batik dan berwarna ini salah satu yang membedakan dengan negara lain. 


Redaktur: Linda Teti Cordina



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter