Icip Kuliner Lokal Bercita Rasa Tionghoa Di Surabaya

Dikenal sebagai kota Pahlawan,menjadikan Surabaya sebagai salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Memiliki kisah sejarah perjuangan bangsa,kota terbesar nomer dua di Indonesia ini tentu memiliki cerita seru di setiap sudutnya. Salah satu unsur sejarah tersebut berasal dari cita rasa kuliner.

Jika bepergian ke ibu kota Jawa Timur ini, tak lengkap rasanya jika tak mencicipi kuliner khasnya. Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Surabaya yang ke 725, kita akan melihat 4 daftar kuliner unik yang bisa dicoba. Menariknya di beberapa sudut kota ini, kita akan sering menjumpai makanan-makanan keturunan peranakan nusantara, salah satunya Tionghoa.

Lalu seperti apa bentuk dari makanan tersebut,berikut 4 daftar makanan lokal bercita rasa Tionghoa yang ada di Surabaya,seperti dilansir dari GNFI, Sabtu(10/11) :

1. Kue Tok

Bentuknya yang seperti kura-kura, kue tok ini melambangkan usia yang panjang dan juga kemakmuran dalam tradisi Tiongkok. Selain itu, dalam beberapa acara, kue ini juga digunakan sebagai sesaji. Kue yang beralaskan daun pisang ini mirip dengan stempel yang dalam bahasa jawa artinya ialah “tok”. 

Berisikan dengan kacang hijau yang ditumbuk,kue ini sangatlah unik dan popular di Indonesia, khususnya Jawa. Rasanya yang kenyal,sedikit lengket,dan manis dari kacang hijau yang ditumbuk, kue tok juga cocok sekali sebagai teman untuk takjil pada bulan Ramadhan ini.

Salah satu tempat terbaik untuk menyantap kue tok di Pasar Atum ada di Warung Kartiko, sebuah warung bernuansa kafe yang menjajakan makanan-makanan tradisional. Dengan harga Rp 8.000,- kita bisa mendapat satu biji kue tok besar, hampir seukuran telapak tangan anak kecil.

2. Lumpia Rebung

Kata lumpia berasal dari dialek Hokkian yang berbunyi ‘Lun Pia’ yang berarti kue bulat. Rasanya yang manis dan kaya akan rebung merupakan pernikahan rasa antara Tionghoa dan Jawa. Tjoa Thay Joe, pria kelahiran Tiongkok, memutuskan untuk tinggal dan menetap di Semarang. Ia pun memutuskan menikah dengan seorang perempuan asli Jawa bernama Wasih. 

Pernikahan mereka pun pada akhirnya menciptakan makanan lintas budaya yakni Tionghoa dan Jawa. Bagi penikmat rebung, tentu lumpia ini jelas tak boleh dibolehkan. Rasanya yang manis, dengan potongan wortel didalamnya, lumpia ini menyimpan rasa yang khas bagi pecinta kuliner nusantara.

Nah,di Warung Kartiko juga menyediakan lumpia rebung ini dan menjadi salah satu jajanan yang paling dicari.

3. Cakue Peneleh

Gurih,lembut,serta mengembang ketika dimasukan kedalam penggorengan, cakwe ini sangatlah cocok dan ringan sebagai pendamping diwaktu senggang dirumah pun untuk dinikmati bersama teman-teman. Di Tiongkok sendiri, cakue umumnya dinikmati sebagai pengganti sarapan. 

Berdiri sejak 1988, pemilik cakue peneleh, Tjio le Loe dan Khoe Sioe Yan, pada awalnya menjual makanan ini dalam bentuk cakue polos di pinggir Jl. Peneleh, Surabaya. Namun pada tahun 1994, mereka berinovasi dengan menambahkan cincangan udang dan juga ayam ke dalam cakue mereka. Cakue spesial inilah yang kemudian disebut sebagai cakue peneleh. 

Kini cakue peneleh punya gerai sendiri di Pasar Atum Surabaya. Selain itu, kudapan sederhana ini menjadi semakin lezat ketika dicocol bersama saus asam manis yang dicampur dengan daun bawang.

4. Tauwa

Berwarna putih susu,tekstur yang lembut, serta penampilan yang mirip dengan pudding, tauwa adalah kuliner peranakan Tionghoa nusantara yang patut dicoba. Kuliner ini biasa dimakan oleh masyarakat Tionghoa peranakan di Surabaya. Tak hanya itu,rasanya bahkan semakin komplit dengan paduan wedang jahe yang hadir sebagai kuah tauwa ini. 

Dengan penggabungan bahan masakan antara jahe dan gula merah, tauwa menjadi kuliner hasil akulturasi antara Tionghoa dan Jawa. Di kawasan Pasar Atum, pedagang tauwa bisa kita temukan di gerai Tahu & Ronde Kitty, tepatnya di lantai 2.

Reporter: Hafid Arsyid

Redaktur: Landy Primasiwi



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter