Belajar Anti Kemapanan dari Paku Alam X

GenPI.co berkesempatan mengunjungi Keraton Paku Alam, Yogyakarta.

Oleh: Khadijah Almakiyah

Sabtu, 24 November 2018 tim GenPI.co berkesempatan mengunjungi Kota Semarang, Jawa Tengah untuk menggelar Focuss Group Discussion soal jurnalisme ramah pariwisata. Kesempatan mengunjungi kota kuliner lumpia itu tentu kami manfaatkan juga untuk menyambangi destinasi digital kebanggaan Genpi Jawa Tengah, Pasar Digital Karetan. Tempat itu kami datangi pada  keesokan harinya, pada Minggu (25/11).  Puas menikmati kuliner dan keseruan acara di pasar, pukul 12.00 WIB pun kami bergegas kembali melanjutkan perjalanan.

Sejak awal rencana perjalanan ke Semarang, Dirut GenPI.co, Bapak Auri Jaya sudah woro-woro bahwa kami juga akan mengunjungi Yogyakarta. Saat itu  belum ada informasi detail soal kegiatan apa yang akan rombongan lakukan di Yogyakarta.

Setelah menempuh perjalanan selama lima jam, tibalah kami di Kota Pelajar itu. Setelah check in di hotel Grand Zuri di kawasan Malioboro, pukul 18.00 WIB tim  dipanggil untuk segera turun ke lobi dan melakukan kunjungan ke Pakualaman. Saat itu dalam bayangan saya, yang tidak mengenal betul wilayah Yogyakarta, Pakualaman adalah nama wilayah tertentu di Yogyakarta tempat kami akan singgah makan malam.

Kawasan Pakualam itu sekitar 20 menit dari hotel, melewati kompleks perumahan yang cukup rapi. Lalu kami  tiba di sebuah kawasan yang sedikit gelap dan banyak pepohonan. Pak Auri  meminta kami turun dari mobil dan berkunjung ke sebuah rumah. Di situ, kami disambut  penghuni rumah bernama Pak Aji, kerabat dekat Pak Auri.

“Inilah rumah masa kecil dan remaja saya ketika tinggal di Yogyakarta,” ujar Pak Auri.

Rumah yang cukup rapi, dengan perabot tua yang masih sangat terawat. Langit-langit yang tidak terlalu tinggi membuat  rumah ini pasti terasa sejuk ketika siang hari.

Selesai bercakap singkat dengan pak Aji, Pak Auri bilang, “Ayo ke depan kita sowan dulu ke Kanjeng Gusti Paku Alam.”

Karena suasana gelap, saya tidak tahu persis posisi rumah yang kami singgahi ternyata berada di belakang persis komplek Pura Paku Alam.

Diantar oleh pak Aji, rombongan masuk dari gerbang belakang komplek Paku Alam, suasananya gelap dan sepi. Waktu menunjukan pukul 20.00 WIB saat itu. Duduk selama sekitar 10 menit sambil menunggu Kanjeng Gusti, saya sudah tidak sabar ingin bertemu karena penasaran. Namun Pak Aji bilang tidak semua bisa bertemu dengan Kanjeng Gusti karena beliau masih pemulihan pasca kecelakaan motor. Saya sempat khawatir tidak dapat kesempatan bertemu beliau.

Dalam bayangan saya, Kanjeng Gusti Paku Alam pasti sosok yang sangat dihormati oleh warga Yogyakarta. Sempat browsing sedikit tentang Paku Alam, akhirnya saya tahu bahwa sosok yang akan kami temui bukan orang sembarangan. Beliau adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setelah Pak Auri terlebih dahulu masuk ke ruangan pribadi Kanjeng Gusti, tak lama kemudian beliau keluar menemui kami. Berpakaian santai dengan tangan kiri yang masih diperban, rasa penasaran saya akhirnya terjawab.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam dengan nama lahir Raden Mas Wijoseno Hario Bimo menyambut kami dengan begitu ramah. Beliau yang masih sakit bahkan meminta agar kami meluangkan waktu ngobrol dengannya.

Bukan hanya itu, kami diajaknya mengunjungi ruangan demi ruangan yang ada di Komplek Pura Pakualaman. Mulai dari pendopo tempat ia bertemu dengan warga dan media, hingga ruangan-ruangan yang jarang diperlihatkan  kepada orang lain. Salah satunya ruangan tempat Presiden Soekarno sempat menginap.

Dengan begitu semangat, beliau  menjelaskan satu per satu filosofi dan makna dari tiap ruangan, benda, bangunan maupun koleksi yang ada di sini. Peninggalan sejak masa Paku Alam pertama masih tertata rapi. Ada foto, koleksi senjata, koleksi busana, lukisan, furniture dan interior ruangan.

Kami juga diajak ke bagian depan Pura, melihat pendopo joglo bernama Wiworo Kusumo Winayang Reko. Di sinilah tempat kegiatan pemerintahan maupun kebudayaan dilaksanakan. Pilar-pilar tinggi dengan arsitektur khas Jawa menjadi salah satu kebanggannya. Bangunan ini didirikan hanya dengan 4 tiang penyangga, berdiri kokoh selama ratusan tahun.

Dengan penuh semangat Kanjeng Gusti yang lahir Yogyakarta, 15 Desember 1962 juga menunjukan  kami koleksi mobil-mobil tua miliknya. “Saya ini anti kemapanan. Mobil terbaru saya dibeli tahun 2005, itupun mobil dinas. Saya lebih menyukai mobil dan motor tua. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang hedon dengan benda-benda baru dan mahal,” ucap Paku Alam X.

Rasa kagum pada sosok yang sedang bicara itu seketika menyeruak. Dengan kekuasaan dan darah biru yang beliau miliki, tentu sangat mudah baginya untuk memperoleh kemewahan layaknya pejabat daerah. Akan tetapi Sarjana Ekonomi lulusan UPN Veteran Yogyakarta itu lebih memilih mengendarai motor bebek tua merek Honda untuk aktivitasnya.

Secara kasat mata, kompleks istana Paku Alaman lebih kecil dibandingkan dengan Istana Kraton Yogyakarta. Di sebelah joglo Wiworo Kusumo Winayang Reko, ada bangunan cantik bernama Gedhong Purworetno. Meski malam hari, keindahan bangunan ini tidak pudar, bahkan makin memancar. Bentuknya seperti bangunan Belanda terbuat dari kaca warna-warni.

Pak Aji sempat berpesan, bangunan ini termasuk yang terlarang dimasuki oleh pengunjung. Namun ia  tak menjelaskan alasannya. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan kesempatan berfoto di depan bangunan cantik ini.

Usai berkeliling di area depan Pura Paku Alam, kami  kembali ke komplek belakang Pura. Tak disangka, Istri KGPAA Paku Alam X, Bray Atika Purnomowati ikut menyempatkan bertemu dan menyapa kami. Saya sempat terkesima melihat wajahnya, begitu teduh dan ayu khas wanita Jawa.

Permaisuri Pura Paku Alam ini juga menyampaikan kabar gembira. Putera pertama mereka akan melangsungkan pernikahan pada bulan Januari 2019 mendatang. Tak hanya itu, secara lisan beliau juga meminta kehadiran dan dukungan kami untuk acara Royal Wedding tersebut.

Bray Atika yang juga seorang pembatik ini bahkan menunjukan kami koleksi souvenir yang ia desain dan siapkan sendiri untuk kebutuhan pernikahan putera pertamanya.  Yang bikin terkejut, saya dan rombongan dihadiahkan souvenir bros cantik berbentuk kupu-kupu hasil kreasi tangan apiknya. Subhanallah.

Sudah diajak keliling komplek Pura Pakualam X saja saya sudah sangat bersyukur. Ditambah lagi buah tangan untuk dibawa pulang, yang nilainya tentu sangat berharga.

Bukan hanya itu , KGPAA Paku Alam X, bahkan menghadiahi saya buku tentang sejarah Pura Paku Alam. Lagi-lagi saya merasa sangat bersyukur  dengan pengalaman langka ini.

Kami menghabiskan kurang lebih satu jam menjelajahi satu dari dua istana bersejarah di DIY ini. Setelah itu, kami pun pamit undur diri. Perasaan kagum dan bersyukur memenuhi hati saya. Tak sia-sia perjalanan panjang dari Semarang ke Yogyakarta hingga bisa bertemu sosok pejabat daerah, pasangan bangsawan KGPAA Paku Alam X dan Bray Atika Purnomowati yang begitu sederhana dan bersahaja.

Saya pun sudah tidak sabar membagi pengalaman ini dalam bentuk tulisan.  Menyampaikan kepada masyarakat luas, bahwa jabatan, kedudukan dan kekuasaan bukanlah menjadi alasan seseorang bersikap sombong dan menjaga jarak dengan rakyat biasa. KGPAA Paku Alam X dan Bray Atika Purnomowati telah menunjukannya kepada kami.

Berkah kunjungan ke Pura Pakualaman ternyata tidak itu saja. Setelah kembali ke Jakarta, Pak Auri mengabarkan bahwa GenPI.co akan menjadi tim media internal untuk  royal wedding putera pertama KGPAA Paku Alam X pada bulan Januari 2019. Ah! Impian saya sejak ngobrol dengan KGPAA Paku Alam X rupanya diijabah Allah SWT.

GenPI.co akan menjadi media partner Dhaup Ageng Putera Pertama KGPAA Paku Alam X dan Bray Atika Purnomowati.

 

Yogyakarta, 27 November 2018

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Mia Kamila
Reporter
Mia Kamila

KULINER