Rumah Tua Milik Tabib Zaman Kerajaan Riau-Lingga Diburu Milenial

Seorang pengunjung berada di Gedung Tabib, Penyengat. (Foto: Milyawati)
Seorang pengunjung berada di Gedung Tabib, Penyengat. (Foto: Milyawati)

Tidak lagi beratap, berdaun pintu dan juga tanpa penutup jendela.  Bangunan tua yang berdenah persegi panjang. Dengan petak berukuran 12 x 8 meter. Sebagian besar dindingnya telah terkelupas. Menampakan susunan bata merah yang terlihat mulai rapuh dimakan zaman. 

Di dinding bagian depan terdapat pintu yang berada tepat di tengah. Di kiri dan kanannya terdapat jendela yang tidak lebih tinggi dari pintu. Di bagian atasnya ada deretan jendela dan pintu yang posisinya sama dengan pintu dan jendela yang berada di bawahnya. Susunan pintu dan jendela seperti ini juga terdapat di dinding belakang. Ini adalah Rumah Tabib di Pulau Penyengat.

Sebagian dari jendela-jendela itu masih memperlihatkan kayu-kayu berbentuk persegi panjang, dengan ventilasi di sisi atasnya. Di tengah dindingnya tampak deretan lubang berbentuk persegi.

Baca juga: Abjad Arab Melayu Wajib Diwariskan Di Kepri

Di sudut menghadap jalan terdapat akar pohon yang seolah mencengkeram susunan bata merah bangunan tua itu. Di bagian atas dinding terlihat warna yang mulai menghitam,  tumbuh semak belukar dan pohon-pohon kecil.

Rumah Tabib di Pulau Penyengat dulunya adalah tempat berdiamnya Raja Ahmad Thabib bin Raja Hasan bin Raja Ali Haji. Cicit Raja Ja’far itu tidak hanya sebagai seorang ulama, tetapi juga tabib. Ia lahir di Pulau Penyengat pada 1282 Hijriah, atau 1865 Masehi.

Bangunan ini terletak di Kampung Jambat, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi gedung ini berada di sebelah barat  Madrasah Diniyah Awaliyah Salafiyah, atau tenggara Masjid Raya Sultan Riau 100 m.


“Gedung Tabib ini dulunya merupakan kediaman Raja Haji Daud yang dikenal sebagai tabib atau dokter Kerajaan Riau-Lingga. Ia adalah seorang tabib yang mengarang kitab-kitab pengobatan tradisional dan kitab perbintangan atau zodiak dalam bentuk syair,” jelas Kamarul Ikhram, warga Penyengat.


Redaktur : Cahaya

RELATED NEWS