GenPI.co - Khalid Payenda adalah eks menteri keuangan Afghanistan yang memutuskan untuk tinggal di Washington DC, Amerika Serikat.
Jika dulu dia adalah pejabat tinggi yang pernah mengawasi dan mengajukan anggaran USD 6 miliar dolar di Kabul, kini nasibnya berubah drastis.
Untuk menafkahi keluarganya, Payenda saban hari menelusuri jalan-jalan di Ibu kota AS itu sebagai sopir Uber.
Dalam sebuah wawancara dengan The Washington Post dikutip Senin (21/3), Pyenda mendapatkan kurang lebih USD 150 dolar untuk enam jam kerja.
Pendapatan tersebut harus dikurangi dengan biaya perjalanannya.
Afghanistan saat ini menghadapi krisis keuangan dan kemanusiaan. Banyak negara di seluruh dunia ragu-ragu untuk mengakui pemerintah Taliban yang menggulingkan rezim yang didukung AS.
Payenda sendiri mengundurkan diri sebagai Menteri Keuangan negara itu seminggu sebelum Taliban mengambil alih Kabul.
Keputusan pengunduran diri itu Payenda ambuil karena hubungannya yang tegang dengan Perdana Menteri Ashraf Ghani.
Dia tweeted kembali pada 10 Agustus mengatakan
“Hari ini saya mengundurkan diri sebagai Penjabat Menteri Keuangan. Memimpin Kementerian Keuangan adalah kehormatan terbesar dalam hidup saya, tetapi sudah waktunya untuk mundur untuk memenuhi prioritas pribadi,” demikian cuitannya pada 10 Agustus 2021
Payenda kemudian meninggalkan Afghanistan karena takut ditangkap oleh pemerintah dan bergabung dengan keluarganya di Amerika Serikat.
Kepada The Washington Post, Payenda mengatakan dirinya dan keluarga harus menyesuaikan ini dan itu ketika menjalani kehidupan yang baru.
Namun dirinya bersyukur dapat mendukung keluarganya dengan cara apa pun yang dia bisa.
Dia juga mengatakan dia menyalahkan Amerika Serikat atas situasi Afghanistan saat ini, karena penarikan pasukan telah memungkinkan Taliban untuk mengambil alih.
Dalam pesan teks kepada Pejabat Bank Dunia di Kabul, pada hari ibu kota jatuh, dia menulis:
“Kami memiliki 20 tahun dan dukungan seluruh dunia untuk membangun sistem yang akan bekerja untuk rakyat… Yang kami bangun hanyalah rumah kartu yang datang turun menerjang secepat ini. Rumah kartu yang dibangun di atas dasar korupsi,” tulis Payenda seperti dikutip The Washington Post.(*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News