Dhaup Ageng, Keramahan & Kesederhanaan Budaya Monarki Pakualaman

17 Januari 2019 08:51

Pernikahan yang dilakukan oleh keluarga kerajaan biasanya diselenggarakan dengan penuh kemewahan. Namun hal ini sepertinya tidak terlihat pada rangkaian prosesi Dhaup Ageng, atau pernikahan agung dari Putera Pertama K.G.P.A.A. Paku Alam X. Dihelat pada tanggal 3 hingga 7 Januari 2019 lalu, jauh dari kesan mewah yang hingar bingar.  Yang kental terasa dalam pernikahan  B.P.H. Kusumo Bimantoro, S.T. adalah  sisi budaya dari Kadipaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut.

Saya pertama kali menjejakkan kaki di Pura Pakualaman pada Minggu, 23 Desember. Menjadi satu dari sebuah tim ringkas GenPI.co yang ditugaskan meliput keseluruhan acara Dhaup Ageng tentu saja membuat saya girang bukan main. Ini adalah kesempatan yang tak semua orang bisa dapatkan.

Hal pertama yang terlintas saat menyaksikan kemegahan Pura Pakualaman adalah sebuah tempat yang penuh dengan aturan rumit dan sistem kasta yang mencolok. Wajar saja, sejauh pemahaman saya, relasi vertikal antara kalangan darah biru dan abdi dalem tampak jelas  dalam lingkungan kerajaan. Namun anggapan saya itu rupanya tak sepenuhnya benar. Saat berinteraksi langsung dengan para penghuni Pura Pakualaman, relasi tersebut cukup cair.

Hubungan antara manusia dengan Tuhannya serta dengan roh-roh leluhur memang menjadi hal yang penting bagi para penghuni Kadipaten Pakualaman. Hal ini terlihat dari panjangnya rangkaian prosesi doa yang diselenggarakan dalam Dhaup Ageng. Mulai dari ritual Bucalan atau penyajian untuk roh-roh leluhur sebagai bentuk permohononan izin sebelum menggelar hajat Dhaup Ageng, dilanjutkan dengan wilujengan atau doa bersama, hingga prosesi nyekar ke makam-makam leluhur.

Uniknya, setiap ritual doa yang dilakukan oleh pihak Kadipaten Pakualaman dilakukan menurut dua versi, yaitu versi agama Islam dan versi kejawen. Hal ini dilakukan karena kepercayaan yang dianut oleh Masyarakat Kadipaten Pakualaman dahulu dipengaruhi oleh ajaran kejawen, sebelum akhirnya masuk agama Islam. Itulah mengapa hingga sekarang, ritual doa selalu dipimpin oleh ahli spiritual, yakni dari ajaran Islam dan kejawen. Tentunya, akulturasi agama yang terbentuk dalam lingkungan Kadipaten Pakualaman ini bisa terbentuk karena adanya toleransi.

Memasuki rangkaian prosesi, sajian budaya Jawa yang disuguhkan semakin kental. Mulai dari prosesi nyengker atar pingitan, siraman, midodareni, hingga akad nikah, diselenggarakan dengan tata cara yang berlaku di istana Pakualaman yakni dengan adat Jawa. Rangkaian acara tersebut dilakukan di 3 lokasi, yakni Kepatihan Kadipaten Pakualaman, Masjid Besar Pakualaman, dan Bangsal Sewotomo Pura Pakualaman yang menjadi pusat prosesi Dhaup Ageng.

Kesederhanaan prosesi Dhaup Ageng juga ditunjukkan dari mahar yang diberikan oleh sang Putera Makhota B.P.H. Kusumo Bimantoro, S.T. kepada dr. Maya Lakshita Noorya, yang berupa alat salat dan kitab Suci Al-Quran. Sungguh mahar yang sangat sederhana bagi pasangan kerajaan Kadipaten Pakualaman, yang resmi menjadi sepasang suami istri pada 5 Januari 2019 tersebut.

Puncak rangkaian Dhaup Ageng Pakualaman ditandai dengan digelarnya resepsi di Bangsal Sewotomo Pura Pakualaman. Sejumlah tokoh negara hadir dalam acara tersebut, diantaranya Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden RI kesebelas Boediono. Para tamu yang hadir pun memanjatkan doa dan harapan untuk kedua mempelai, yang merupakan penerus dari Kadipaten yang memegang tonggak kepemimpinan tertinggi nomor dua di Yogyakarta tersebut.

Resepsi Dhaup Ageng yang digelar pada 5 dan 6 Januri 2019 tersebut menampilkan sajian budaya yang beragam. Mulai dari upacara adat, pertunjukkan seni tari dan musik gamelan, kuliner.  Bahkan pakaian-pakaian adat yang dikenakan oleh mempelai dan para tamu Dhaup Ageng menarik untuk diselami. Resepsi Dhaup Ageng ini bisa dikatakan sebagai melting pot yang menjadi sarana berkumpulnya sejumlah unsur budaya, yang dikemas dalam satu momen bersejaarah di kota pelajar tersebut.

Selepas bertugas di lingkungan Kadipaten Pakualaman, saya mendapat pelajaran bahwa menjadi bagian keluarga kerajaan atau keraton bukanlah hal yang semata berhubungan dengan kemewahan. Yang paling penting, bagaimana bisa menjadi pemimpin yang penuh kesederhanaan yang mampu mempersatukan masyarakatnya. Bahkan setelah menikah, Mas Suryo dan Mbak Shita, panggilan bagi pasangan mempelai Dhaup Ageng tersebut, tidak tinggal di lingkungan Pura Pakualaman. Mereka memutuskan berbaur dengan masyakarat luas, agar bisa lebih dekat dan mengenal masyarakat Jogja yang kelak akan mereka pimpin bersama keluarga Kesultanan Yogyakarta.

Yasserina Rawie - Yogyakarta, 8 Januari 2019

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2024 by GenPI.co