Mengenang Kisah Heroik Pejuang Palembang Pertahankan Kemerdekaan

Monumen Perjuangan Rakyat (foto: Robby Sunata)
Monumen Perjuangan Rakyat (foto: Robby Sunata)

Seiring waktu berjalan, ketegangan makin memuncak menjelang akhir tahun 1946. Tiga kejadian penting menandai tahap ini, Pertama, saat seorang anggota laskar pemuda ditembak mati tanpa alasan saat berjalan di tepi sungai di depan Benteng Kuto Besak.

Kedua, saat seorang perwira pertama TRI ditembak oleh Belanda saat berkendara motor 100 meter dari markas belanda di RS Charitas.

Kejadian ketiga adalah pemantik yang dilemparkan ke minyak yang sudah tumpah akibat dua kejadian sebelumnya.

Mabuk berat setelah merayakan malam pergantian tahun membuat beberapa tentara Belanda membawa Jeep militer keluar dari Benteng Kuto Besak pada awal pagi 1 Januari 1947. 

Mereka mengebut ke arah Masjid Agung Palembang lalu masuk ke daerah pertokoan di daerah Pasar 16 sebelum kembali ke dalam markas. 

Sepanjang jalan mereka bertemu dengan pos jaga laskar dan sekelompok tentara TRI yang sedang berpatroli di dalam wilayahnya sendiri, sehingga menyebabkan tembak menembak terjadi.

TRI, laskar, dan warga yang telah tidak sabar lagi akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini untuk selamanya dan memulai perang, yang akan berlangsung selama 5 hari dan 5 malam di seluruh kota Palembang dan mengakibatkan kehancuran seperlima kota Palembang dan melumpuhkan ekonomi mereka.


Pasukan Belanda unggul dalam persenjataan, mereka punya tank, kapal perang yang berada di tengah sungai Musi, dan satu skuadron  pesawat tempur yang berpangkalan di Talang Betutu. 


Reporter : Robby Sunata

Redaktur : Linda Teti Cordina

RELATED NEWS