Wamena Mencekam, Okupansi Hotel Papua Anjlok Drastis

Suasana Kantor Bupati Jayawijaya di Wamena, Senin (23/9/2019), saat aksi demonstrasi berujung kericuhan dan menimbulkan kerusakan fasilitas publik. (Sumber foto: ANTARA/HO/Kodam XVII/Cenderawasih/pri)
Suasana Kantor Bupati Jayawijaya di Wamena, Senin (23/9/2019), saat aksi demonstrasi berujung kericuhan dan menimbulkan kerusakan fasilitas publik. (Sumber foto: ANTARA/HO/Kodam XVII/Cenderawasih/pri)

GenPI.co - Situasi konflik di Wamena, Papua kembali memanas hingga Senin (23/9) pagi. Akibat dari peristiwa ini turut melemahkan sektor pariwisata, salah satunya bisnis perhotelan. Hingga saat ini bahkan okupansi hotel anjlok hingga 60%. 

“Kemarin saja sudah menurun 60 persen. Padahal okupansi hotel di daerahnya sudah melorot sejak konflik menolak rasisme pecah pada Agustus lalu,” ujar Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran atau PHRI Papua, Syahril Hasan Senin, (23/9) dikutip Tempo.co. 

Syahril mengatakan sebelum terjadi kerusuhan okupansi hotel rata-rata per hari mencapai 60 hingga 70 persen. Tingkat keterisian hotel lantas jeblok menjadi hanya 30-40 persen setelah kondisi sosial di Papua bergejolak.

Syahril memastikan pengusaha hotel di Wamena telah mendapatkan perlindungan keamanan. "Ada pengetatan keamanan. Kami dibantu Brimob," tambahnya.

PHRI mencatat ada delapan hotel yang berdiri di Wamena dengan jumah 80 kamar. Seluruhnya merupakan hotel bintang dua. Peningkatan keamanan hotel pun tidak hanya dilakukan di Wamena, tapi juga hotel-hotel di seluruh Papua.


Reporter : Hafid Arsyid

Redaktur : Maulin Nastria

RELATED NEWS