Cerita Horor: Pocong Mengerikan di Hutan Kota Sudut Jakarta

Pocong di hutan kampus ini ternyata beneran ada. Dia menampakkan dirinya persis di hadapanku, maghrib-maghrib! (Foto : Jurnas)
Pocong di hutan kampus ini ternyata beneran ada. Dia menampakkan dirinya persis di hadapanku, maghrib-maghrib! (Foto : Jurnas)

Kelas pertama Gamelan Jawa pun dimulai. Kelasnya berada di gedung 9 dan letaknya cukup jauh dari depan pintu masuk FIB. Saat memasuki kelas, sang dosen bernama Pak Edi sudah menunggu sambil berdiri di depan alat-alat musik gamelan Jawa. 

Kelas ini ditempatkan di ruang musik dan tidak ada bangku sama sekali. Ternyata, mahasiswa yang terlambat datang bukan cuma kami saja. Wajar saja, kelasnya sangat jauh dan tersembunyi. 

Cerita Horor: Pocong Mengerikan di Hutan Kota Sudut Jakarta

Ilustrasi gamelan jawa (Foto : Dewi Sundari)

Tepat setelah adzan Maghrib, pelajaran dimulai. Setiap mahasiswa dipersilahkan untuk memilih alat musik yang ada untuk dimainkan. Nama alat musiknya tak banyak yang aku ingat, di antaranya gender, kenong dan gong. Aku pun memilih alat musik yang paling sederhana, yaitu gong. Tapi, baru saja duduk, pak Edi langsung menyuruhku memilih alat musik yang lain. 

loading...

“Itu yang perempuan tukar sama yang ini (sambil menunjuk alat musik yang lain yang ada di barisan depan). Itu cuma boleh untuk laki-laki,” kata Pak Edi. 

Aneh sekali. Kenapa ada alat musik yang hanya bisa dimainkan laki-laki. Walaupun terdengar sangat tidak adil, aku pun menuruti perintah si dosen. 


BERITA LAINNYA

TANYA AHLI

Berita Tentang Special Needs Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING