Sulsel Punya Sutera Terbaik

Salah satu galeri sutera yang berjejer di sepanjang Jalan Gunung Lompobattang, Makassar. (Foto: kabarwajo)
Salah satu galeri sutera yang berjejer di sepanjang Jalan Gunung Lompobattang, Makassar. (Foto: kabarwajo)

Sutera salah satu komoditi terbaik milik Sulawesi Selatan (Sulsel). Kualitas prima, warna terbaik, dan motif unik produk unggulan ini siap menyambut peserta Indonesia Tourism Table Top (ITTT) Sales Mission Makassar for Tawau. Sembari menikmati city tour, mereka juga melihat sutera terbaik karya Negeri Para Daeng. Sutera-sutera ini dipajang berjejer pada galeri di sepanjang Jalan Gunung Lompobattang, Makassar.

“Sutera dari Sulsel sudah terkenal yang terbaik. Ini kesempatan mereka untuk mengekplore destinasi Sulsel. Dengan potensinya, sutera sangat potensial ditawarkan bagi wisatawan Tawau, Sabah, Malaysia. Harga-harga sutera di sini juga terjangkau,” ungkap Fungsi Ekonomi Konsulat RI di Tawau Septania Ruby Prameswari, Rabu (7/11).

Memiliki kualitas super, Sulsel menjadi pemasok 90% sutera di Indonesia pada 2015. Kapasitas produksi sutera Negeri Para Daeng mencapai 8 ton. Status dominan ini juga bertahan hingga rentang 2016 dan 2017. Mengacu data Trade Map 2016, Indonesia menjadi produsen sutera ke-9 dunia. Basis industri ini berada di Sopeng, Wajo, dan Enrekang.

“Kualitas sutera Sulsel ini nomor 1 di Indonesia. Sutera di sini banyak peminatnya, terutama wisatawan yang datang ke Makassar. Kami produksi sendiri. Produksi benang diambil dari Sopeng dan Enrekang. Wajo khusus pemintalannya, meski di Makassar juga ada tapi tidak banyak,” tutur Pelaku UMKM Tenun Sa’be Belo Rustam asal Sengkang, Wajo.

Pemintalan benang sutera Wajo menghasilkan beberapa produk, seperti kain dan sarung. Pengerjaannya dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan manual (badoka). Sebagai ilustrasi, untuk menghasilkan 1 lembar sarung (ukuran 2 meter) secara manual diperlukan waktu 1 bulan. Bila menggunakan ATBM, 1 lembar kain sarung dengan ukuran serupa hanya dikerjakan dalam waktu 1 hari.

“Optimalisasi alat manual dan ATBM tetap dilakukan. Semua memiliki segmentasi pasar sendiri-sendiri. Kadang kami juga harus mengejar waktu dan kapasitas produksi, makanya ATBM yang dioptimalkan,” jelasnya lagi.

Untuk membuat 1 lembar kain sarung, dibutuhkan benang sutera seberat 250 gram. Demi mengimbangi kebutuhan pasar dan ketersediaan bahan baku, pengrajin sutera juga melakukan impor benang. Asalnya dari Tiongkok dan Hong Kong. “Kebutuhan pasar harus disikapi. Kami cukup lengkap. Selain kain atau sarung, kami juga sudah mengembangkan busana. Ada perancang busana khusus,” jelas Rustam.

Sedikitnya ada 50 motif kain sutera yang ditawarkan Negeri Para Daeng ini. Beberapa motif yang familiar diantaranya, Coboh, Lagosi, Pucuk, dan Logoh. Sedikit gambaran, motif Coboh ini biasanya dipakai untuk acara penting dan sakral termasuk pengantin raja. Selain, mereka juga mengembangkan motif Lontara. Lontara ini berupa motif aksara daerah Bugis-Makassar.

“Yang jelas, kami memperhatikan kualitas secara menyeluruh. Kami juga menawarkan banyak motif dan semuanya unik dengan karakter khasnya. Motif-motif ini akan terus berkembang. Sebab, ini bagian dari kreativitas dan inovasi yang kami lakukan,” katanya lagi.

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter