Hadapi Perubahan Iklim, Indonesia Perlu Galakkan Mitigasi Bencana Sejak Dini

Perubahan iklim di Indonesia
Perubahan iklim di Indonesia

Belum lama ini, tagar #10YearsChallenge menjadi tren di sosial media. Para pengguna beramai-ramai mengunggah foto perubahan diri dalam kurun waktu satu dekade lalu. Tren viral ini juga dimanfaatkan oleh para aktivis dan organisasi peduli lingkungan di seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan lingkungan dan iklim akibat pemanasan global.

Indonesia pun menjadi negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Peningkatan curah hujan dan bahkan beberapa wilayah di Indonesia mengalami dampak yang ekstrim saat ini. Salah satunya adalah banjir di Sulawesi Selatan baru-baru ini yang merendam 78 desa di 52 kecamatan yang tersebar di 10 kota dan kabupaten. Biro Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengatakan bahwa bencana banjir dan longsor tahun ini merupakan yang terburuk selama 10 tahun terakhir.

“Sudah waktunya cara pandang kita berubah. Semua pihak perlu terlibat dalam kontribusi nyata untuk menangani dampak yang muncul dan menyikapi perubahan iklim supaya tidak semakin parah,” ungkap Wirahadi Suryana, Direktur Zurich Insurance Indonesia dalam keterangannya.

Wira menjelaskan bahwa setiap individu dapat terlibat aktif dalam melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko banjir. Menurutnya hal mendasar yang wajib dilakukan adalah menjaga lingkungan. Mulai dari pengurangan limbah dan sampah, memperbanyak tanaman hijau dan area resapan di sekitar rumah.

“Kita dapat mulai dengan menghindari pemakaian kantong plastik, menggunakan sedotan stainless steel yang dapat digunakan berkali-kali, menghemat penggunaan air bersih untuk mengurangi limbah.” jelas Wira.

Baca Juga : Ayo Manfaatkan Layanan Prakiraan Cuaca Lokasi Wisata BMKG

Selain itu, menurutnya pemerintah perlu melakukan mitigasi bencana dan manajemen risiko untuk mencegah tingginya kerugian yang muncul dari perubahan iklim. “Edukasi terkait dengan manajemen risiko dari bencana alam juga patut digalakkan, apalagi mengingat bahwa saat ini biaya pemulihan dapat mencapai hampir 9 kali lebih tinggi daripada biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan.”

Sekedar informasi, laporan khusus tentang Pemanasan Global 1,5° C (Special Report on Global Warming of 1,5° C) yang dirilis Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperingatkan jika pemanasan global melebihi 1,5°C, akan berdampak buruk pada bencana alam, peningkatan permukaan air laut, kemiskinan, ekosistem makhluk hidup, bahkan ketahanan pangan di berbagai belahan dunia.

Bahkan Living Planet Index yang meneliti lebih dari 4.000 spesies di dunia juga merilis Living Planet Report 2019, dan statistik utama dari laporan ini menunjukkan kepunahan spesies rata-rata 60% antara tahun 1970 dan 2014, yang berarti bahwa, rata-rata populasi hewan pada tahun 2014 telah mengalami penurunan lebih dari setengah populasi mereka pada tahun 1970.

Reporter: Hafid Arsyid

Redaktur: Landy Primasiwi

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Annissa Nur Jannah
Reporter
Annissa Nur Jannah

KULINER