Mengenal Happy Hypoxia pada Covid-19

Dokter spesialis paru dr. Erlina Burhan (Foto: BNPB)
Dokter spesialis paru dr. Erlina Burhan (Foto: BNPB)

GenPI.co - Dokter spesialis paru dr. Erlina Burhan memberikan penjelasan terkait happy hypoxia.  Diketahui istilah tersebut berkembang saat pandemi Covid-19. 

"Happy hypoxia itu terjadi karena ada kejadian hypoxia, yaitu kurangnya oksigen dalam darah. Mestinya kalau kurang oksigen dalam darah, maka orang akan sesak dan ada gejalanya, tapi ini tidak terjadi pada beberapa pasien Covid-19," kata Erlina dalam diskusi virtual di Graha BNPB, Rabu (16/9).

BACA JUGA: Terawan: 3.500 Dokter Magang Siap Terjun Perangi Covid-19

Erlina kemudian menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Masalahnya ternyata ada di paru-paru orang yang merasakan happy hypoxia. 

"Kenapa? Karena diketahui pada kondisi terjadi kerusakan pada saraf yang mengantarkan sensor sesak ke otak. Sehingga otak tidak memberikan respons, jadi otak tidak mengetahui kondisi kurang oksigen dalam darah. Normalnya kalau terjadi kekurangan oksigen biasanya akan ada sinyal ke otak, bahwa tubuh kekurangan oksigen," urai Erlina.

loading...

"Otak kemudian memerintahkan ke tubuh untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Dengan cara bernapas cepat, sehingga akan terlihat sesak," sambungnya

Erlina kemudian menceritakan awal ditemukannya pasien Covid-19 dengan happy hypoxia. Menurutnya peristiwa ini terjadi sudah lama, yakni pada bulan  April sampai Mei.

"Dulu namanya silent hypoxia. Ada kasus terjadi terhadap seseorang usia 60 tahun laki-laki yang bergejala Covid-19 dan lama kelamaan batuk makin parah dan tubuh makin lemas. Namun anehnya pasien ini tidak sesak," jelasnya.


Reporter : Andi Ristanto

Redaktur : Paskalis Yuri Alfred

BERITA LAINNYA

TANYA AHLI

Berita Tentang Baca Buku Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING