Uniknya Tradisi Sadranan Rejeban Plabengan di Lereng Gunung Sumbing

Ratusan warga berbaris mengular menuju Bukit Plabengan untuk melakukan sadranan di Makam Ki Ageng Makukuhan. (Foto: Gus Wahid)
Ratusan warga berbaris mengular menuju Bukit Plabengan untuk melakukan sadranan di Makam Ki Ageng Makukuhan. (Foto: Gus Wahid)

GenPI.co - Ratusan warga Desa Cepit Watugunung, Kabupaten Temanggung, Jumat (22/3) lalu, melakukan Sadranan Rejeban Plabengan. Mereka melakukan ritual dengan membawa tenongan menuju ke makam sesepuh desa yang berada di Lereng Gunung Sumbing.

Menurut Kades Pagergunung Sukarman, sadranan ini dilaksanakan setiap hari Jumat Wage bulan Rajab penanggalan Jawa. Setelah itu, seluruh warga kemudian melakukan doa dan dilanjutkan makan bersama sebagai wujud kesyukuran atas anugerah Tuhan.

“Rejeban Plabengan merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan masyarakat Dusun Cepit dalam menyambut bulan Rajab dalam penanggalan Jawa,” terangnya.

Dijelaskan, lokasi Tradisi Rejeban Plabengan berada di Dusun Cepit atau tepatnya Bukit Plabengan Lereng Gunung Sumbing yang menjadi petilasan Ki Ageng Makukuhan. Ki Ageng Makukuhan merupakan pepunden desa dan salah satu penyiar agama Islam di daerah Temanggung.

Baca juga: Serunya Melintasi Pedesaan Dalam Gelaran Banyuwangi Marathon

Dalam sejarah yang diceritakan beliau konon merupakan penerus Walisongo pada kisaran abad ke 16-17. Karenanya, untuk mengingat jasa Ki Ageng Makukuhan, setiap tahun digelar ritual syukuran ini.

Uniknya Tradisi Sadranan Rejeban Plabengan di Lereng Gunung SumbingFoto: Guswahid


“Di dalam setiap tenong warga berisi nasi tumpeng, pisang, ingkung ayam, dan lauk pauk lainnya,” tukasnya.


Redaktur : Cahaya

RELATED NEWS