Mengenal Akang Yaman, Muadzin Yang Sempat Masuk Dunia Kelam

Yaman Rahmanta telah menjadi muadzin selama 18 tahun di Musala Nurul Hikmah, Ciledug, Tangerang.
Yaman Rahmanta telah menjadi muadzin selama 18 tahun di Musala Nurul Hikmah, Ciledug, Tangerang.

GenPI.co - Berawal dari meletakkan rasa ikhlas membersihkan musala demi pelan-pelan menjauhi dunia kelam, Yaman Rahmanta, yang kerap disebut Akang, akhirnya dipercaya menjadi seorang muadzin di Musala Nurul Hikmah, Ciledug, Tangerang.

Dia bukan lulusan dari sebuah pesantren. Di masa hidupnya saat masih bujangan, dirinya memberanikan diri untuk merantau ke ibu kota Jakarta. Ia pergi meninggalkan kampung halaman bersama dengan empat rekannya.

Setelah sampai di Jakarta, pria kelahiran Tasikmalaya ini bersama rekan nya menjadi preman di kawasan Tanjung Priok. Profesi preman mengangkat dirinya dengan pekerjaan sebagai seorang pengamanan di suatu bar di Jakarta. 

Perjalanan hidup dimulai. Akang berkali-kali harus berkelahi dengan berbagai macam orang di dunia malam, membuat orang terluka, berdebat, dan banyak perilaku negatif lainnya ia harus lakukan sebagai risiko pekerjaan.

Akang kemudian menikah dengan wanita pilihannya dan memiliki anak. Ia pun tetap bekerja di bar. Hingga akhirnya saat anak pertamanya beranjak dewasa, ia disadarkan dengan kata-kata yang terucap dari bibir anaknya itu. 

Disaat itu juga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dari kesesatan. Akang mulai berpikir keras, untuk memulai mencari jalan baru diridhoi.

Bermula dari sukarela akang membersihkan musala yang berada di dekat rumahnya. Empat tahun berjalan mengabdi membersihkan rumah ibadah, akang akhirnya dipercaya untuk menjadi seorang Muadzin. 


Baca juga:


Reporter : Annissa Nur Jannah

Redaktur : Maulin Nastria

RELATED NEWS