Suara Musik Dangdut dari Kegelapan Rimba Argopuro

Ilistrasi hutan. (Foto: Elements Envato)
Ilistrasi hutan. (Foto: Elements Envato)

Ada dua jalur pendakian untuk menuju puncak Gunung Argopuro, yaitu Baderan dan Bremi. Kami memilih jalur Baderan, Situbondo dan turun di Bremi, Probolinggo.

Pemilihan jalur Baderan sebagai awal pendakian, karena jalur ini lebih ringan dibandingkan jalur Bremi. Argopuro memang terkenal dengan trek pendakian terpanjang se-Jawa.

Saat baru sampai di basecamp Baderan, kami sudah disambut dengan cerita mistis yang dialami oleh beberapa pendaki yang baru turun dari puncak. Ada yang mengaku  melihat perempuan berbaju putih dengan rambut panjang yang tiba-tiba hilang di antara pepohonan.

Hal mistis lainnya adalah tentang  mata bersinar yang terus mengikuti sekelompok pendaki. Tapi itu tidak mamatahkan semangat kami untuk mendaki Gunung yang terkenal dengan danau Taman Hidup yang sangat indah itu

Kami memulai pendakian jam 8 pagi, pada tanggal 15 juli 2017. Untuk mempersingkat waktu, kami menyewa ojek sampai batas perkebunan warga dan hutan.

ADVERTISEMENT

Sesampainya batas hutan, kami mulai berjalan menyusuri jalan. Butuh waktu hampir lima jam untuk sampai di pos mata air 1. Karena cuaca yang kurang mendukung dan juga rasa lelah yang sangat terasa, kami memutuskan untuk bermalam di titik itu.

Tenda berhasil didirikan, lalu kami bertiga menuju sungai kecil yang berada tidak jauh dari pos mata air 1, untuk mengisi persediaan air. Saat sampai di sungai, aku merasakan seperti ada yang memantau kami dari gelap dan rimbunnya hutan. Tapi ku acuhkan  saja  perasaan itu, mungkin halusinasi saja.

Setelah selesai mengisi air, kami pun kembali ke tenda untuk mulai memasak. Kegiatan memasak dan makan kami lakukan dalam kondisi gerimis.

Saat malam mulai larut, kami memilih untuk tidur  agar bisa melanjutkan perjalanan esok hari dengan tenaga yang pulih.

Sekitar pukul 9 malam, aku terbangun karena merasa mendengar suara orang berjalan mengelilingi tenda kami sembari menempelkan sesuatu di kain tenda kami  itu.

Jelas saja aku ketakuta,  tapi tetap mencoba  menenangkan diri.  Mungkin saja pendaki lewat yang iseng. Kejadian itu membuat sa tidak bisa tidur berjam-jam lamanya, sampai akhirnya kantuk menyerang  aku  bangun saat pagi sudah datang.

BACA JUGA: Cerita Horor: Tangis Perempuan di Kamar Sebelah

Setelah sarapan dan membereskan tenda, aku dan kedua temanku  memulai pendakian hari ke dua pukul 9 pagi. Target hari ini kami menuju Cikasur dan bermalam di sana.

Perlu waktu yang cukup panjang dan sangat menguras tenaga untuk sampai di Cikasur, yaitu selama 8 jam perjalanan. Sesekali kami berhenti untuk melepaskan lelah dan membuat teh hangat dan memakan beberapa roti. Setelah dirasa cukup untuk istirahat dan tenaga kita sudah kembali lagi, maka perjalanan pun dilanjutkan kembali.

Melewati jalur yang cukup landai dan panjang, akhirnya kami sampai di Cikasur jam 5 sore. Cikasur merupakan hamparan  savana yang datar dan cukup besar untuk mendirikan beberapa tenda. Di sana juga terdapat sebuah bangunan yang sudah tidak digunakan lagi, dan juga terdapat landasan pesawat terbang yang dibangun pada era penjajahan Belanda.

Konon menurut cerita masyarakat sekitar, di Cikasur sering terdengar suara jejak langkah seorang prajurit dari kerajaan Dewi Rengganis.

Malam ini kami beristirahat di Cikasur. Seperti malam sebelumnya, tidur ku tak nyenyak. Kali ini saya terbangun karena mendengar suara teriakan tidak jauh dari tenda. Setelah beberapa lama, teriakan itu tak terdengar lagi.

Tak berapa lama, aku  mendengar orang berjalan, tapi kali ini cukup ramai,  Mungkin sekitar sepuluh orang.Saya tetap berada di dalam tenda, karena kantuk mulai terasa, saya pun kembali tidur. Dalam benakku kelompok itu mungkin saja pendaki lainnya

Pagi harinya, aku  merasa terkejut tidak lama setelah bangun.  Karena ternyata, hanya kami yang mendirikan tenda di situ.

 “Bang, semalem denger orang teriak ndak?” tanyaku pada bang Mikri

Bang Mikri hanya mengangguk, mungkin sebagai isyarat untuk tidak membahasnya sekarang.

BACA JUGA: Cerita Horor: Jimat Pelaris itu Memenjara Jiwa Si Mbah


Reporter : Andi Ristanto

Redaktur : Paskalis Yuri Alfred

loading...

BERITA LAINNYA

Berita Tentang Millennial Of The Week Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING