Liputan Khusus

Ondel-ondel Mencari Receh

Grafis: Aji
Grafis: Aji

GenPI.co - Suara musik gambang kromong dengan lagu Betawi mengalun dari speaker yang berada di atas gerobak yang didorong. Sepasang ondel-ondel setinggi hampir 3 meter berjoget mengikuti irama lagu. Seorang remaja kemudian menyodorkan ember kecil berharap uang receh dari pemberi. 

Fenomena pengamen ondel-ondel sudah lama marak. Kesenian Betawi ini seolah turun kasta dan kini berubah dijadikan alat untuk mencari uang receh dengan cara mengamen.

Menurut JJ Rizal, ondel-ondel sejak dulu memang dijadikan sarana hiburan sekaligus untuk mencari mata pencaharian. 

"Ondel-ondel memang menurut tradisi dan sejarahnya berkeliling kampung karena fungsinya adalah tolak bala. Untuk jasanya itu dia diberi imbalan sawer. Jadi kalau kini dia keluar masuk kampung dan disebut mengamen, dia kembali ke tradisi aslinya," kata JJ Rizal kepada GenPi.co, Kamis (28/3) lalu.

Baca juga: Melestarikan Onde-ondel Bukan dengan Cara Ngamen, Tapi dengan Kerajinan

Seiring berjalannya waktu, ondel-ondel kini dimanfaatkan oleh warga Jakarta untuk mencari nafkah. Salah satu warga yang memanfaatkannya untuk mencari nafkah adalah Okta. Sebagai warga Bekasi ia mengaku sudah cukup lama mencari nafkah dari mengamen ondel-ondel.

“Saya ngamen bisa cukup menghidupkan keluarga kecil saya. Dengan modal awal menjual satu motor untuk membeli satu ondel-ondel seharga Rp.2,5 juta, lalu lama-lama saya bisa membeli ondel-ondel lain,” jelasnya saat ditemui di Jalan Bulak Tinggi, Bekasi, Rabu (27/03).


Profesinya pun sekarang diikuti oleh beberapa kelompok anak jalanan dan menjadi anak buahnya. “Pendapatan anak buah saya satu harinya Rp.500 ribu, setoran ke saya Rp.80 ribu, dan sisanya dibagi rata,” katanya.


Reporter : Anggi Agustiani

Redaktur : Cahaya

RELATED NEWS