Yandex Metrics
GenPI.co App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Situasi Mencekam, 14 Orang Tewas di Situs Keagamaan Afrika Tengah

Ilustrasi-Anak muda mengayunkan senjata tajam, memprotes pasukan perdamaian dari Perancis di Afrika Tengah. Foto: Reuters/Goran Tomasevic.
Ilustrasi-Anak muda mengayunkan senjata tajam, memprotes pasukan perdamaian dari Perancis di Afrika Tengah. Foto: Reuters/Goran Tomasevic.

GenPI.co - Sedikitnya 14 orang telah tewas di sebuah situs keagamaan di Republik Afrika Tengah (CAR) di tengah bentrokan antara kelompok bersenjata dan pasukan keamanan.

Dilansir Aljazeera, Kamis (25/2/2021) Kelompok Hak Asasi Amnesty International menerbitkan sebuah laporan merinci serangan yang terjadi pada 16 Februari di Bambari, yang terletak di pusat negara, 380 kilometer (236 mil) dari ibu kota Bangui.

BACA JUGA: Duh Mendadak Nakes India Tolak Vaksin Covid Buatan Negeri Sendiri

Diketahui, sejak Januari pemerintahan Presiden Faustin-Archange Touadéra melakukan ofensif menyusul kebangkitan kembali kekerasan menjelang pemilihan presiden dan legislatif yang diadakan pada 27 Desember.

Enam kelompok bersenjata dikabarkan bergabung di bawah Koalisi Patriot untuk Perubahan (CPC) untuk menghentikan pemilihan umum.
 
Sementara, Crisis Evidence Lab, yang didirikan untuk membantu organisasi pencari fakta hak asasi manusia, melaporkan menunjukkan setidaknya 14 mayat tergeletak di lantai sebuah situs keagamaan di timur kota.
 
Meskipun tidak memberikan informasi yang cukup untuk menilai identitas para korban, dan menunjukkan bahwa mereka tidak mengenakan pakaian militer dan bahwa seorang wanita dan seorang anak termasuk di antara yang tewas.

Selain itu, kelompok hak asasi manusia juga melaporkan bahwa selama bentrokan 16 Februari, sebuah pusat medis yang didukung oleh Doctors Without Borders (Medecins Sans Frontieres, atau MSF) telah menjadi sasaran peluru dan bahan peledak.
 
Amnesty juga menerangkan banyak orang telah mengungsi di tenggara kota Bangassou sementara bantuan kemanusiaan ke negara itu diblokir.

"Di negara di mana konflik telah berkecamuk selama dua dekade, pihak berwenang sekarang harus dengan jelas memprioritaskan perlindungan hak asasi manusia," imbuh peneliti Amnesty International Afrika Tengah, Abdoulaye Diarra.

BACA JUGA: Kondisi Bak Neraka di Yangon, Medsos Militer Myanmar Mati Total


BERITA LAINNYA

TANYA AHLI

Berita Tentang Baca Buku Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING