Amnesty International: Penyerangan Papua Sinyal Memburuknya HAM

Polisi membawa sejumlah orang yang diamankan dari Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019). (Sumber foto: Antaranews)
Polisi membawa sejumlah orang yang diamankan dari Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019). (Sumber foto: Antaranews)

GenPI.co - Menanggapi tindakan represif dan diskriminatif terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Amnesty International Indonesia menilai ini adalah sinyal rendahnya penghormatan terhadap hak asasi manusia sekaligus sinyal memburuknya situasi HAM Papua.

Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid mengatakan kejadian di Surabaya memperlihatkan bagaimana aparat negara dan kelompok non-negara bersama-sama melakukan tindakan represif dan diskriminatif bernuansa kebencian rasial dan permusuhan terhadap mahasiswa Papua. 

“Polisi pun membiarkan lontaran kata-kata bernada penghinaan rasial seperti menyebut orang Papua sebagai monyet, anjing, dan babi. Seharusnya kepolisian mencegah tindakan persekusi yang dilakukan oleh massa dan menindak tegas pelaku,” ujar Usman dalam keterangan resminya, Senin (19/8). 

Ironisnya, lanjut Usman aparat justru ikut mengepung asrama dan melakukan penggunaan kekuatan yang berlebihan dengan menembakkan gas air mata, mendobrak pintu gerbang asrama dan melakukan penangkapan sewenang-wenang. Inilah yang kemudian mendorong lahirnya protes dan kemarahan orang Papua di Manokwari dan juga wilayah lainnya. 

“Kami meminta aparat keamanan di Manokwari untuk menggunakan pendekatan persuasif dan juga tidak menggunakan kekuatan secara tidak proporsional seperti yang terjadi di Surabaya. Pihak-pihak yang melakukan kekerasan harus dibawa ke muka hukum,” tegas Usman.

Reporter : Hafid Arsyid

Redaktur : Maulin Nastria

RELATED NEWS