Festival Sindoro Sumbing, Kolaborasi Wonosobo dan Temanggung

Kolaborasi Wonosobo - Temanggung di Festival Sindoro Sumbing (Foto : Istimewa)
Kolaborasi Wonosobo - Temanggung di Festival Sindoro Sumbing (Foto : Istimewa)

GenPI.co - Panitia gabungan Wonosobo-Temanggung kembali membedah naskah dan konsep sendratari yang bertajuk Mapageh Sang Watu Kulumpang, di aula Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo, kemarin (3/7) mendekati hari H puncak acara Festival Sindoro Sumbing (FSS) dalam platform Indonesiana,. Khristiana Dewi , Kabid Kebudayaan Disparbud Wonosobo mengungkapkan bahwa Mapageh Sang Watu Kulumpang atau ritual Mapageh adalah inti dari sinergi dua wilayah yang kaitannya dengan komitmen untuk menjaga kelestarian alam.

Mapageh adalah agenda puncak dari FSS atau Festival Sindoro Sumbing yang ruhnya adalah kolaborasi dari dua kabupaten. Rekonstruksi bagaimana upacara penetapan tanah sima atau perdhikan di era kerajaan Medang sekitar 900 Masehi akan dilakukan, namun akan diarahkan pada sebuah ikrar untuk menjaga kelestarian alam di Sindoro-Sumbing dari dua pemimpin kabupaten. Sebelum puncak acara, akan ada berbagai pentas, termasuk sendra tari yang melibatkan para seniman dari berbagai daerah,” ungkap Dhewi.

Baca juga :

Pendaki Hilang di Bondowoso, Tim SAR Dengar Suara Tanpa Wujud 

SAR Nyerah, Kodim 0822 - Polres Cari Pendaki Hilang di Bondowoso 

Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup 17 Agustus 2019 

Selain melibatkan dinas Pariwisata dan Kebudayaan di tiap kabupaten, FSS menggandeng komunitas, budayawan, seniman, hingga tim ahli baik dari kabupaten maupun dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.


Mewakili BPCB JatengRiris Purbasari, menyebutkan bahwa agenda tersebut meskipun bercorak era Hindu tahun 900-an Masehi adalah sebuah konstruksi ritual budaya, sehingga sisi keagamaan merupakan latar kejadiannya yang ada di era itu, yakni di saat Hindu Siwa berkembang pesat.


RELATED NEWS