Jelajah Kota Tua Gorontalo

Dari Brieven Bus Hingga kampung Cina

Brieven bus ini masih berdiri di pinggir jalan, tepat di depan Kantor Pos Kota Gorontalo. Secara fisik, bentuknya unik dan memiliki warna orange menyolok, logam besi tebal ini tidak berubah, fungsi juga masih sebagai bis surat atau kotak surat.

Alat ini dulunya berfungsi sebagai penampung surat. Masyarakat yang ingin mengirimkan surat, bisa memasukkan surat atau kartu pos ke lubang sempit memanjang di bagian sisinya. Tentu saja surat atau kartu posnya sudah dituliskan alamat lengkap tujuan dan dibubuhi perangko secukupnya.

Namun sudah tidak ada lagi orang yang memasukkan surat ke dalam lubang di sisinya. Zaman telah berubah meskipun kotak surat masa kolonial ini masih kokoh berdiri di pinggir jalan.

Sebelum telepon seluler lahir, komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat atau instansi dengan pihak lain yang berjauhan tempat cara berkirim surat.

Bahkan di era tahu 1980-an lahir istilah sahabat pena, komunikasi dalam persahabatan yang dilakukan dengan cara saling berkirim surat.

“Kami sering swafoto di brieven bus ini, saya dan warga Kota Gorontalo lainnya bangga memilikinya” kata Roy Malahika, warga Gorontalo.


Brieven bus tua ini tidak sendiri.  Di belakangnya ada bangunan kantor pos yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Di pojok halamannya bahkan berdiri tugu peringatan 23 Januari 1942, saat para pemimpin Gorontalo menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia.


RELATED NEWS