Berbeda Pandangan Soal Perang Gaza, Hubungan Joe Biden dan PM Israel Menjadi Rumit

10 Mei 2024 18:40

GenPI.co - Presiden Joe Biden dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah lama menjalin hubungan yang rumit.

Dilansir AP News, namun mereka kehabisan ruang untuk bermanuver karena pandangan mereka mengenai perang Gaza berbeda dan masa depan politik mereka berada dalam ketidakpastian.

Hubungan mereka mencapai titik terendah ketika Biden menunda pengiriman bom berat ke Israel dan memperingatkan bahwa penyediaan artileri dan persenjataan lainnya juga dapat ditangguhkan jika Netanyahu melanjutkan operasi skala besar di kota Rafah di Gaza selatan.

BACA JUGA:  Amerika Serikat Akan Sampaikan Putusan Resmi Soal Serangan Udara Israel ke Gaza

Netanyahu, pada bagiannya, mengabaikan peringatan Biden dan berjanji untuk terus maju, dengan mengatakan, “Jika kita harus berdiri sendiri, kita akan berdiri sendiri.”

“Jika perlu, kami akan bertarung dengan kuku kami. Tapi kami punya lebih dari sekadar kuku,” katanya.

BACA JUGA:  Turki Hentikan Semua Perdagangan dengan Israel Gegara Tindakan Militer di Gaza

Biden telah lama bangga pada dirinya sendiri karena mampu mengelola Netanyahu dengan lebih banyak imbalan daripada hukuman.

Namun meningkatnya perselisihan selama tujuh bulan terakhir menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukannya mungkin sudah lama melewati batas waktu terbaiknya. 

BACA JUGA:  PBB Sebut Gaza Utara Kini Berada dalam Kelaparan Besar-besaran

Ketika kedua pemimpin tersebut menyeimbangkan situasi Timur Tengah yang eksplosif dengan masalah politik dalam negeri masing-masing, Netanyahu makin menolak daya tarik publik dan permohonan pribadi Biden, sehingga memicu penolakan presiden yang lebih tegas dalam beberapa minggu terakhir.

“Jika mereka masuk ke Rafah, saya tidak akan memasok senjata yang telah digunakan secara historis untuk menangani Rafah, untuk menangani kota-kota, yang menangani masalah tersebut,” kata Biden dalam wawancara dengan CNN pada hari Rabu, sambil mengungkapkan perbedaan pendapatnya yang makin besar.

Meski begitu, para pembantu Biden bersikeras bahwa presiden tidak mau membiarkan hubungan AS-Israel benar-benar retak di bawah pengawasannya.

Mereka tidak hanya mengutip kepentingan politik, mayoritas warga Amerika mendukung Israel, tetapi juga sejarah pribadi Biden dengan negara tersebut dan keyakinannya terhadap hak negara tersebut untuk membela diri.

Para pembantu presiden, yang menyaksikan bagaimana protes pro-Palestina mengguncang partainya dan kampus-kampus yang menjadi tempat berkembang biaknya pemilih Partai Demokrat, telah merenung selama berbulan-bulan bahwa Biden bisa menjadi orang Demokrat terakhir yang pro-Israel di Gedung Putih. (*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Irwina Istiqomah

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2024 by GenPI.co