Liputan Khusus

Tak Lolos Sistem Zonasi, 1 SD Tak Diterima Hingga Bakar Piagam

Jeritan Kisruh PPDB Berbasis Zonasi
Ayah dari siswa Y yang bernama Sugeng, membawa piala milik Y setelah putrinya itu membakar 15 piagam penghargaan lantaran tak diterima di SMPN impiannya karena sistem zonasi PPDB (Sumber foto: Tribunnews)
Ayah dari siswa Y yang bernama Sugeng, membawa piala milik Y setelah putrinya itu membakar 15 piagam penghargaan lantaran tak diterima di SMPN impiannya karena sistem zonasi PPDB (Sumber foto: Tribunnews)

GenPI.co – Meski kehadiran sistem zonasi berharap memberikan kebaikan di dunia pendidikan, namun sudah memikirkan dampak buruk dari sebuah kebijakan? istem zonasi dalam dalam PPDB 2019 (penerimaan peserta didik baru) terus menimbulkan kekisruhan di sejumlah wilayah. Selain dinilai kurang sosialisasi, sistem ini juga dirasa menghamabat para siswa untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Siswa berprestasi dengan nilai tinggi pun turut merasakan dampaknya.

Kali ini GenPI.co merangkum berbagai fakta menyedihkan yang dialami para siswa di sejumlah daerah akibat sistem zonasi ini. Berikut ulasannya seperti dilansir berbagai sumber.   

1. Siswa Berprestasi di Banten terpaksa Masuk Swasta

Salah satu contoh daerah yang menyesalkan zonasi ini adalah provinsi Banten. Banyak siswa berprestasi di Banten gagal masuk SMA Negeri. Sebagian besar siswa berprestasi memang memiliki jarak yang cukup jauh dari rumahnya ke lokasi sekolah. Sehingga cukup menyulitkan dengan adanya sistem zonasi ini.

"Karena sistem zonasi, mereka ke sekolah ini jauh karena di perbatasan, jarak rumah mereka ke sekolah lebih dari dua kilometer, mereka kalah dong dengan yang satu kilometer," ujar Gubernur Banten Wahidin Halim, dikutip dari Kompas.com, Minggu (7/7).

Wahidin mengatakan, pihaknya saat ini tengah mencari solusi terbaik supaya siswa berprestasi bisa masuk ke SMA Negeri. Sebab, lanjutnya jika masuk ke SMA swasta dikhawatirkan biaya yang dikeluarkan oleh orang tua siswa jauh lebih besar.  "Mereka ke swasta tidak sanggup membiayai, ke negeri tidak dapat, mereka harus diakomodir," sambung Wahidin.

Dibuatnya sistem zonasi, menurutnya tidak memikirkan secara khusus fasilitas sekolah, lantaran tidak semua wilayah memiliki perbandingan antara jumlah sekolah dan siswa yang sama. Misalnya, di Kota Tangerang dan Serang yang memiliki minat masuk sekolah yang sangat tinggi, sementara jumlah sekolah tidak sebanding. Akhirnya banyak siswa, bahkan yang berprestasi, tidak bisa masuk ke SMA Negeri.


2. Siswa Bakar Piagam di Pekalongan


Reporter : Hafid Arsyid

Redaktur : Maulin Nastria

RELATED NEWS