Afghanistan Penuh Gejolak tapi Pemerintahnya Cuma Mikirin Syahwat

Wanita Afghanistan kerap mendapatkan kekerasan seksual (Foto : New York Times)
Wanita Afghanistan kerap mendapatkan kekerasan seksual (Foto : New York Times)

GenPI.co - Afghanistan, negeri yang terus dilanda konflik akhirnya memaksa para warganya berburu suaka di negeri orang. Tak terkecuali Indonesia. Puluhan pencari suaka awalnya berada di wilayah Kebon Sirih sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi penampungan di Kalideres, Jakarta Barat.

Bukannya mengurus negeri yang karut marut, dalam penemuan investigasi yang dilakukan oleh BBC, para pejabat Afghanistan memilih mengurusi syahwat mereka. Diketahui kasus pelecehan seksual merebak di pemerintahan Afghanistan. Beberapa pejabat dituding berbuat mesum kepada bawahannya. Dan ngerinya hal tersebut menjadi sebuah 'budaya'.

Baca juga :

Hari Buruh, Pekerja Wanita Masih jadi Korban Pelecehan Seksual 

Wanita Berdarah Indonesia jadi Paspampres AS Donald Trump 

Gara-Gara Coba Nipu Tuhan, Wanita Ini Ditahan Polres Lumajang 

Diceritakan oleh salah satu nara sumber BBC yang namanya dirahasiakan. Wanita ini merupakan mantan pegawai pemerintahan. Dia mengaku telah dipaksa berhubungan seks berkali-kali oleh atasannya. Tak hanya itu, terkadang dia pun juga kerap diserang secara fisik dan mental. 

Tak hanya dirinya, dua orang wanita juga pernah melapor diperkosa oleh menteri yang sama. Menteri tersebut diketahui melakukan kekerasan seksual secara terang-terangan tanpa takut jabatannya hilang sebab dia orang berpengaruh di pemerintahan. 

Meski demikian, nara sumber itu enggan melaporkannya lantaran melihat dua korban sebelumnya yang mengadu ke polisi malah disalahkan. "Mereka (polisi) sebelas-dua belas. Mereka dan pemerintah sama-sama korup," katanya.

Laporan PBB pada 2018 memperlihatkan Afghanistan 'konsisten' menjadi tempat yang buruk bagi kesejahteraan dan keselamatan wanita. Sumber juga menjelaskan, perempuan yang mengadu kepada hakim, jaksa, maupun polisi, mereka semua juga akan melakukan hal yang sama kepada pelapor. "Ini sudah menjadi bagian budaya. Kemana lagi kami harus mengadu jika mereka seperti itu?" pungkasnya.

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Hafid Arsyid
Reporter
Hafid Arsyid

KULINER