Mengenang Kisah Heroik Pejuang Palembang Pertahankan Kemerdekaan

Monumen Perjuangan Rakyat (foto: Robby Sunata)
Monumen Perjuangan Rakyat (foto: Robby Sunata)

Sniper TRI mengawasi dengan ketat lapangan yang ada di antara pasukan Belanda dan gudang amunisi mereka. Menjelang petang, bendera putih berkibar di RS Charitas. Sesuatu yang awalnya dikira tipuan Belanda oleh para pejuang RI.

Sementara itu selama perang berlangsung, Kerajaan Belanda menyampaikan protes keras kepada pemerintah Indonesia atas apa yang terjadi di Palembang, memaksa pemerintah yang saat itu bermarkas di Yogyakarta melakukan rapat darurat yang lalu menghasilkan keputusan dramatis.

Perang masih berlanjut pada hari keempat di seluruh Palembang kecuali di RS Charitas. Pasukan Belanda di disana mengajukan permintaan perundingan yang lalu diterima oleh TRI. Namun gencatan senjata itu lalu dilanggar sendiri oleh Belanda.

Pada posisi ini, Palembang telah kehilangan banyak pejuang termasuk beberapa perwiranya, belum lagi masyarakat sipil. Salah saru prajurit TRI Darius Tobing menggambarkan situasi di lokasi para sukarelawan PMI mengumpulkan jenazah korban perang, dia melihat orang Palembang, orang Jawa, orang China, Orang India, semuamya bergelimpangan.

Pada hari keempat ini seiring masuknya pasuka dari Lampung dan Lahat maka tigaperempat dari seluruh kekuatan bersenjata di Sumatra Bagian Selatan telah berada di Palembang. 

Semua perwira menyakini jika perang diteruskan Indonesia akan menang. Pada sore harinya datanglah pesan dari Yogyakarta untuk menghentikan peperangan. 

Setelah melewati perdebatan, perintah dari Yogyakarta akhirnya diikuti dengan pertimbangan bahwa perang tidak akan berhenti disini saja. 


Palembang yang terlalu penting akan direbut kembali oleh Belanda dengan mengerahkan pasukan yang lebih besar dan persenjataan yang lebih banyak.


Reporter : Robby Sunata

Redaktur : Linda Teti Cordina

RELATED NEWS