Tubuhmu Tak Sehangat yang Kukira, Tapi Harus Kuterima Semua ini

Tubuhmu Tak Sehangat yang Kukira, Tapi Harus Kuterima Semua ini - GenPI.co
Ilustrasi. (Foto: Elements Envato)

GenPI.co - Kali kedua aku menyusuri jalan ini dengan motor bututku. Seruas jalan aspal halus yang dilindungi oleh rindangnya daun pohon yang tumbuh di kiri kanannya. 

Sinar matahari sulit menerobos masuk lantaran lebatnya daun pohon-pohon itu, membuat suasana di sepanjang jalan ini tampak temaram.  Kendaraan pun sepertinya enggan melewati jalan ini. Soal itu, aku tak tahu kenapa.

BACA JUGA: Benalu Menyaru Sebagai Cinta, Ia pun Pergi Berlalu

Inilah aktivitasku belakangan, menjajakan makanan ringan sambil mengelilingi kota ini. Aku adalah satu dari banyak orang di sini  yang kalah oleh musuh tak terlihat bernama COVID-19. 

Perusahaan tempatku bekerja kolaps, sehingga kami para karyawannya terlantar. Untuk menyambung hidup, aku berjualan makanan ringan. Tabungan kubongkar untuk digunakan sebagai modal jualanku ini.

Hari ini, nasib kembali membawaku di jalan sepi nan kelabu ini. Nuansa suramnya persis seperti hatiku yang sedang menebak-nebak masa depanku yang makin tak jelas saja di bawah serangan pandemi ini. Ingin sekali aku marah, tapi pada siapa?

Sudah lewat magrib, aku pun memutuskan mengaso menepi sebentar di sini, sembari kembali merenungi keadaanku. 

Sekitar 4 bulan lalu, aku masih memiliki meja kerjaku sendiri di  sebuah ruangan kantor yang nyaman dan sejuk. Lalu hanya dalam waktu singkat, aku telah beralih rupa menjadi orang buangan. 

Tonton video ini:

Berita Selanjutnya
Nusantara