
Atau mengundang bank Amerika lainnya untuk membelinya. Demi menjaga hubungan dengan Amerika. Hasil penjualan itu bisa masuk ke lembaga yang mengurus kebangkrutan SVB.
Penyebab kebangkrutan itu sendiri sangat klasik: nasabah ramai-ramai mengambil uang dari bank. Termasuk nasabah-nasabah besar. Morgan Stanly ada di dalamnya. Mereka mulai mendengar rumit bank itu mengalami kesulitan.
Manajemen SVB terus mencari pinjaman untuk tutup lubang. Kian lama kian ke pinjaman jangka pendek. Terakhir, bahkan, pinjaman satu malam. Harapannya, Jumat pagi bisa dapat pinjaman baru: USD 2,25 miliar.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan: Neom Uceng
Betapa hebat kalau berhasil. Mencari pinjaman USD 2,25 miliar hanya dalam waktu satu hari. Sedalam itu lubang yang harus ditutup pagi itu.
Ternyata gagal. Pinjaman tidak bisa didapat. Siangnya otoritas keuangan memeriksa keadaan bank itu. Sorenya diputuskan: SVB dinyatakan bangkrut. Ditutup.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan: Beijing Syiah-Sunni
Weekend lalu adalah weekend kelabu di Silicon Valley. Penyebab sesungguhnya masih akan lama baru terungkap. Yang jelas 60 persen pinjaman bank itu diberikan ke modal ventura dan private equity.
Dua jenis perusahaan keuangan itu lantas menyalurkannya ke startup. Maka ketika balon startup-nya meletus, rentetannya bisa sampai ke SVB. Selama itu selalu bisa diatasi dengan menggali lubang baru. Lubang pun kian dalam. Lalu lempar handuk.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan: Arab Yahudi
SVB telah menjadi simbol kejayaan Silicon Valley. Kini salah satu simbol kejayaan itu telah runtuh. Tentu bank lain akan mengambil alih perannya. Tapi suasananya sudah akan berbeda: bank konvensional punya ideologi sendiri. Terutama dalam menghitung risiko.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News