Yandex Metrics
GenPI.co App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Kehancuran Myanmar, Warga Melarikan Diri, Tentara di Mana-mana

Polisi anti huru hara menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran di Yangon, Myanmar. Foto: Reuters.
Polisi anti huru hara menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran di Yangon, Myanmar. Foto: Reuters.

GenPI.co - Sejak merebut kekuasaan di Myanmar dalam kudeta enam minggu lalu, tentara dan polisi telah menembak mati lebih dari 200 pengunjuk rasa damai dan menangkap hampir 2.200 orang, dan pemukulan serta penyiksaan.

Sementara, di perbatasan negara, di mana kelompok etnis bersenjata telah berjuang untuk menentukan nasib sendiri selama beberapa dekade, situasinya menjadi semakin tidak stabil.

BACA JUGA: Kehancuran Honduras, Warga Melarikan Diri, Tentara di Mana-mana

Banyak kelompok etnis bersenjata, termasuk 10 penandatangan Perjanjian Gencatan Senjata Nasional, telah menolak untuk terlibat dengan SAC, beberapa bahkan telah mengumumkan dukungan mereka terhadap gerakan protes anti kudeta dan hak rakyat untuk memprotes.

Negara Bagian Kachin di perbatasan utara Myanmar dengan China, di mana Organisasi atau Tentara Kemerdekaan Kachin , salah satu kelompok bersenjata paling terkemuka di negara itu, telah berjuang untuk menentukan nasib sendiri sejak 1961, dengan cepat muncul sebagai front baru di krisis.

Bentrokan antara KIA dan militer, yang dikenal sebagai Tatmadaw, telah terjadi hampir setiap hari di Negara Bagian Shan utara, sementara pertempuran meletus di empat kota di Negara Bagian Kachin sejak 11 Maret, memaksa ratusan orang meninggalkan rumah mereka.

Seorang pemimpin lokal dari desa San Pya di kotapraja Hpakant, mengatakan bahwa dia terkbangun karena suara ledakan dan tembakan.

Bahkan, setidaknya 100 wanita dan anak-anak di desa yang sebagian besar beragama Kristen itu berlindung di gereja-gereja terdekat.


BERITA LAINNYA

TANYA AHLI

Berita Tentang Komunitas Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING