Liputan Khusus

Kota Tua: Diminati Wisatawan, Tapi Display Informasi Tak Memadai

Menguak Potensi Wisata Cagar Budaya di Jakarta
Kawasan Kota Tua diminati oleh wisatawan, namun tak dilengkapi dengan display informasi yang memadai.
Kawasan Kota Tua diminati oleh wisatawan, namun tak dilengkapi dengan display informasi yang memadai.

GenPI.co - Dari sekian banyak cagar budaya yang ada di DKI Jakarta, riset dari Jakarta Tourism Forum menyatakan bahwa kota tua Jakarta merupakan situs yang paling diminati wisatawan. Bagaimana tidak, kawasan ini memiliki banyak bangunan bernilai sejarah tinggi yang sangat ikonik.

Meski demikian, banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu situs cagar budaya rupanya bukan merupakan tolak ukur dari pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya untuk pariwisata. Pengamat pariwisata Azril Azahari mengatakan, hal paling penting dari pariwisata cagar budaya adalah pengalaman dan ilmu yang didapatkan wisatawan saat berkunjung kesuatu cagar budaya.

“Bukan dilihat dari banyaknya wisatawan yang datang, tapi seberapa besar pengalaman dan informasi yang didapatkan oleh wisatawan. Khususnya untu wisata cagar budaya, penting sekali bagaimana mengemas informasi dan nilai-nilai sejarah yang ada di situs tersebut,” kata Azril, yang merupakan ketua dari Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia, Senin (8/7).

Berdasarkan data dari Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, jumlah pengunjung Kota Tua pada hari biasa berkisar antara 1000-5000 pengunjung, sementara pada hari libur bisa mencapai 50.000-75.000 pengunjung. Namun, jumlah pengunjung yang besar tersebut rupanya tidak sebanding dengan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang sejarah kota tua sebagai salah satu cagar budaya di DKI Jakarta.

Baca juga:

 Pengamat: Merujuk Definisi, Kota Tua itu Bukan Cagar Budaya 

Cagar Budaya Berkontribusi Besar Terhadap Pariwisata DKI 

Kota Tua, Dari Kota Kolonial menjadi Kota Nasional 

Konservasi Mendorong Eksistensi Cagar Budaya 

GenPI.co mewawancarai beberapa pengunjung Kota Tua untuk mengetahui pemahaman mereka tentang Kota Tua sebagai situs cagar budaya. Hasilnya, sebagian besar dari mereka tidak memahami Kota Tua sebagai cagar budaya. Sebagian besar, tujuan mereka hanya untuk sekedar jalan-jalan atau berfoto di bangunan yang ikonik.

“Ya saya tahu kalau Kota Tua itu bangunan bersejarah, karena banyak bangunan-bangunan tua Belanda. Tapi kalau sejarah persisnya Saya nggak tahu,” kata Sulastri, wisatawan asal Kendal yang merupakan ibu rumah tangga.

“Saya mau buat penelitian untuk tugas kuliah, karena Kota Tua ini banyak dikunjungi turis asing. Tapi kalau sejarahnya Kota Tua sendiri saya nggak paham sih,” ujar Rivaldo, wisatawan yang juga mahasiswa.

Hal tersebut memang bisa dibilang wajar, karena di berbagai sudut bangunan di Kota Tua tidak terdapat penjelasan atau informasi terkait sejarah gedung. Wisatawan yang berkunjung biasanya asyik menikmati pemandangan atau mengabadikan foto.

Salah satu spot di Kota Tua adalah Museum Sejarah. Di dalam museum itu pun, informasi terkait sejarah gedung dan Kota Tua tidak disajikan secara menarik, sehingga tidak menarik wisatawan untuk menggali informasi dari sana. Hal tersebut juga diungkapkan oleh sejarawan J.J. Rizal saat diwawancara oleh Genpi.co di rumahnya.

 “Coba masuk ke museum sejarah Jakarta, displaynya itu gak karuan, gak jelas narasinya. Jadi bangunan cagar budaya yang ada tidak dihargai, dan tidak dipahami, hanya dilihat sebagai ruang kapital,” kata J.J Rizal, Selasa (9/7).

Untuk pengembangan situs cagar budaya menjadi destinasi pariwisata yang memiliki fungsi edukasi, ketua Jakarta Tourism Forum Salman Dianda Anwar mengatakan bahwa pihaknya mengupayakan untuk menyediakan informasi yang berbentuk digital kepada wisatawan di Kota Tua. Menurut Salman, informasi digital saat ini lebih menarik perhatian wisatawan, khususnya wisatawan milenial.

“Nilai sejarah, budaya dan kesenian bisa disampaikan dengan cara yang terdigitalisasi.  Anak-anak sekarang kan lebih suka dengan informasi yang bersifat digital, jadi perlu disiapkan. Dan mungkin juga ada atraksi-atraksi yang bisa menarik minat orang untuk datang dan juga dia mengetahui sejarahnya bagaimana,” kata Salman saat ditemui di Kota Tua, Jakarta, Kamis (11/7).

Simak juga video manarik berikut


Reporter : Yasserina Rawie

Redaktur : Paskalis Yuri Alfred

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Yasserina Rawie
Reporter
Yasserina Rawie

KULINER