Demi Pariwisata Maju, Pejabat Pohuwato Berkemah di Hutan

Seekor tarsius yang berhasil diamati pejabat Pemkab Pohuwato. (Foto: Refli Melangi)
Seekor tarsius yang berhasil diamati pejabat Pemkab Pohuwato. (Foto: Refli Melangi)

Sejumlah pejabat Kabupaten Gorontalo berbondong masuk hutan untuk mengenal dan mengidentifikasi kekayaan biodversitas di wilayahnya. Mereka membuat tenda untuk beristirahat dan mengenakan sepatu boot. Pakaian mereka juga tidak menyolok, menyesuaikan dengan lingkungan.

Salah satu yang disasar adalah Tarsius supriatnai, primata mungil endemik Gorontalo yang belum banyak diteliti orang. Satwa ini memang masih misterius, termasuk pola hidupnya yang aktif pada sore dan pagi hari. Di luar itu kebanyakan tidur atau beristirahat di dalam lubang pohon atau di rerimbunan bambu.

“Kami melakukan survey pengembangan destinasi ekowisata minat khusus,” kata Irfan Saleh, Kepala Badan Perencanaan Penelitian Pembangunan Kabupaten Pohuwato, Jumat (11/1/2019)

Baca juga: Tarsius Primata Mungil yang Menjadi Incaran Wisatawan Asing

Survey ini dilakukan di Desa Makarti Jaya Kecamatan Taluditi. Selain Irfan Saleh, para pejabat yang terlibat masuk kawasan hutan ini adalah Asisten Ekonomi dan Pembangunan Rusmiyato Pakaya, Kepala Dinas Pemuda Olah Raga Pariwisata Arfan Tangoy, Kepala Dinas PUPR Frifry Adam, Kadis Penanaman Modal Sudin Alin, Kabid Fispra dan Lingkungan Nur Anugerah Wenas, Kabid Pariwisata Yasir Adiputra, Kabid Perizinan Hasan Haluta, Kabid Penataan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Yusnimata Buluatidan sejumlah pejabat lainnya.

Survey ini dilakukan selama 2 hari, Kamis-Jumat, Pada Kamis sore hingga malam, rombongan melakukan kunjungan lapangan di lokasi pengamatan tarsius. Mereka menunggu denagn cemas kemunculan tarsius pada saat senja mulai menghilang. Saat itu satwa ini mulai aktif dengan mengeluarkan bunyi-bunyi yang khas, saling bersahutan.

Para pejabat ini terlihat tegang menanti kemunculan satwa dengan pupil mata yang lebar pada suasana gelap. Akhirnya yang dinanti datang, satwa ini keluar dari balik pepohonan untuk berburu makanan kesukaannya, belalang dan serangga lain.

Survey potensi wisata minat khusus ini bekerja sama dengan Burung Indonesia, sebuah lembaga nirlaba yang bergeraak di bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

“Hutan Mekarti Jaya masih sangat subur, pemandangannya alami, berbukit dan sungai  kecilnya jernih berkelok. Sangat surprise, ternyata Tarsius hewan pemalu. Butuh komitmen semua elemen untuk menjaga alam agar habitat Tarsius tetap terjaga,” kata Yasser Asiputera, Kabid Pariwisata.

Desa Makarti Jaya sedang bersiap untuk menyongsong era pariwisata. Desa ini pernah dikunjungi puluhan wisatawan asal Singapura yang tertarik dengan si mungil tarsius.


Redaktur: Cahaya

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Mia Kamila
Reporter
Mia Kamila

KULINER