Dear Diary

Susah Payah Ungkapkan Cinta, Sahabat Priaku Menjawab Tidak

Ilustrasi kecewa karena cinta bertepuk sebelah tangan (Foto: Pinterest)
Ilustrasi kecewa karena cinta bertepuk sebelah tangan (Foto: Pinterest)

Dia tak bisa langsung menjawabnya. Ada banyak hal yang bisa kubaca dari mimik dan bahasa tubuhnya. Ada enggan di tatapan matanya. Ada ragu di kedut bibirnya yang samar kutangkap.

“Maaf, Yono. Lu baik banget ama gue. Baik banget. Dan itu yang bikin gue ngerasa gak enak untuk bilang bahwa perasaan gue ke lu sayangnya nggak sama,”jawabnya.

Aku tersenyum. Tulus, kuraih tangannya lalu kugenggam erat. Rasanya dingin, sedikit basah karena keringat. Mungkin ada ketakutan di balik sikap tenangnya?

“Nggak apa-apa. Gue justru lebih menghargai kejujuran lu sekarang. Gue  bisa jadi akan lebih murka kalau di kemudian hari gue tau kalo lu nanggepin baik omongan gue sekarang hanya karena alasan balas budi,” sergahku.

“Jadi, kita masih bisa berteman baik?” tanyanya. Aku merasakan sedikit nada khawatir dalam omongannya.

ADVERTISEMENT

“Oh come on. Kita sudah nggak di umur segitu untuk membahas perkara seperti itu deh, Jung. We are two adults, sitting here talking about our feeling. Ya iyalah kita tetep bisa berteman baik” ucapku berusaha tegas.

Padahal, hatiku sedang runtuh dalam keping-keping paling kecil. Ia yang kusayangi rupanya tak memiliki perasaan yang sama denganku.

“Tentunya, setelah kita pulang dari sini, gue akan butuh sedikit waktu untuk sendiri. Untuk berfikir, untuk menikmati perasaan gue yang sedang campur aduk antara, maaf, kecewa dan lega ini. Tapi sungguh, Lo gak perlu khawatir. Pembicaraan ini gak perlu ngubah apapun yang udah ada di antara kita”, tambahku.

Hening.

Kuteguk sisa-sisa kopi yang sudah dingin. Dia pun melakukan hal yang sama.

“Ya udah, balik yuk”, ajakku beberapa saat kemudian.

“Anak-anak mau karaokean, tuh. Lu gak mau gabung?”, tanyanya.

“Gue skip dulu deh kali ini, ya. Daripada ntar gue curhat lewat lagu”, selorohku.

Hening lagi.

“Is it because of me?”.

“Ya elah, Jung. Ya gak, lah. Kan gue udah bilang tadi. Nggak nyimak, deh. No worries. Besok juga gue bakal biasa lagi. Serius!”, sergahku.

Kami beranjak. Ajung mendekatiku dan serta merta memelukku. Pelukan paling tulus yang bisa gue rasakan.

“Makasih, yah. Untuk perasaan dan kejujuran lu. Meski jawaban gue pasti bukan seperti yang lu pengen denger”, bisiknya.

Hatiku hangat. Kubalas pelukannya sambil kubisikkan jawabanku

“It beyond my expectation already. Mencintaimu itu kebutuhan gue. Soal perasaan lu ke gue, itu bukan urusan gue”.

Kami melangkah ke parkiran bersama.

“Eh, tunggu. Kalau  lu  tadi bilang reaksi gue baik dari yang bisa lu bayangin, emang apa reaksi terburuk yang bisa lo bayangin?”, tanyanya tiba-tiba.

“Ya paling nggak, lo gak mendadak kabur ketakutan liat gue yang menatap lo dengan binar cinta. Halah,” jawabku sambil lalu.

“Hah? Emang ada yang model gitu?”.

“Nah! Mungkin itu yang bikin gue demen ama Lo. Lo tuh kadang naifnya ampun! Banyakkkk Jung yang kayak gitu,” sahutku.

“Ohhh… soalnya setauku yang lebih banyak kejadian itu, orang musuhin orang gara-gara ditolak cintanya”.

“Hahahahahahahha… Kalo itu emang iya banyak, sih. Yang bikin gue gak yakin itu yang mereka rasain adalah cinta,”

“Berat, yah. Udah, ah. Lu yakin nih nggak mau gabung?” Ia bertanya sambil memakai helm.

“Nope. Salam aja buat anak-anak,  ntar.”

“Okelah. Hati-hati di jalan. Kabarin kalau udah nyampe rumah”.

“Siap!”.

“Bye!”, lambainya.

Sejenak, kupandangi dia melaju dengan motor besarnya. Dan menjadi semakin yakin, aku punya alasan untuk apa yang kurasakan padanya.(*)

Jangan sampai ketinggalan! Kamu sudah lihat video ini ?


Reporter : Hafid Arsyid

Redaktur : Paskalis Yuri Alfred

loading...

BERITA LAINNYA

Berita Tentang Baca Buku Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING