My Trip Story

Menggapai Puncak Merapi, Sembari Larut dalam Kemegahannya

Oleh: Winento

Pemandangan Puncak Merapi pada 2007 silam. (Foto: Winento/GenPI.co)
Pemandangan Puncak Merapi pada 2007 silam. (Foto: Winento/GenPI.co)

Dalam pendakianku kala itu, jalur Selo kupilih sebab jamak digunakan. Namun saat mencapai poin awal jalur itu, aku tak melewati rute umum. Jalan perkampungan menjadi pilihanku lantaran menyuguhkan panorama alam yang lebih bervariasi dan indah. 

Dan saat itu pula saya memilih jalur Selo yang umumnya para penjelajah gunung ini melalui jalur ini.

Menggunakan motor trail yang dipinjam dari rekan-rekan saya di Jogja, aku bersama dua teman saya menerabas melalui setapak desa hingga mencapai Muntilan yang penduduknya sangat ramah kepada pendatang yang melintas.

Menggapai Puncak Merapi, Sembari Larut dalam Kemegahannya
Puncak Merapi. (Foto: Winento/GenPI.co)

Dalam perjalanan tersebut kami melintasi Candi Ngawen yang masuk di wilayah Kecamatan Muntilan. Kemudian lanjut terus hingga tiba di Magelang dan tiba di sebuah gardu pandang. 

Sambil istirahat, kami menaiki gardu pandang itu yang berbentuk semacam panggung yang cukup luas itu. Beruntung cuaca sedang cerah sehingga aku dan kedua temanku bisa menikmati hamparan perkebunan dan sawah penduduk dari ketinggian tersebut.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sesekali motor kami haru menyebrangi sungai yang airnya bening sekali. Kami pun berhenti sejenak untuk merasakan sejuknya air itu. 


Sekitar pukul 14:00 WIB, kami melanjutkan perjalanan saya menuju ke Pos Selo yang berada di perbatasan Magelang-Boyolali. Kami melaju dengan santai, sebab tak ingin melewatkan suasana pedesaan yang begitu damai. Sesekali bersua penduduk yang melemparkan senyum ke arah kami. 

Aku dan kedua temanku tiba di pos pendakian Barameru Selo Merapi pukul sekitar 17.00 WIB. Kami melakukan registrasi di pos itu dan membayar Rp5 ribu per orang. Tak lupa sebelum mendaki, kami kembali memeriksa peralatan kami yang sudah disiapkan sejak masih di Jogja. Kami kembali  menyusun barang-barang yang dibutuhkan sesuai perjalanan penjelajahan mendaki Gunung itu.

Biasanya para pendaki memilih mendaki gunung pada malam hari. Hal itu untuk menghindari panas terik yang berpotensi bikin tubuh cepat lelah. Begitu juga dengan kami. Sebuah warung yang berada di kawasan itu kami pilih sebagai tempat bersantai selama kurang lebih 3 jam. Kami berencana mulai mendaki pukul 20.00 WIB. Waktu beberapa jam yang tersisa kamai manfaatkan untuk memulihkan tubuh yang lelah setelah perjalanan menggunakan motor dari Jogja.

Baca juga: Nostalgia dalam Dekap Sejuk Udara Batu


RELATED NEWS